Motivasi Penerbangan

Curahan Anak Desa Untuk Menjadikan Insan Penerbangan Yang Berwawasan Empan Papan Dan Tidak Menyalahkan Ibadah Sebagai Alasan Melupakan Ilmu Pengetahuan Teknologi


     Ini hanya sebuah ulasan hati kenapa banyak orang-orang berfikir pragmatis sempit dalam menghadapi dan menggunakan rumus dan angka-angka. Kita mungkin flashback sejenak,kembali ke masa silam ketika kita duduk di bangku SMA dan berkata untuk apa rumus-rumus seperti ini? Belajar integral,limit,turunan pusing-pusing buat apa?. Jika kita mengingat hal itu,memang jika dilihat dari segi manusia yang hidup praktis akan menganggap itu semua tidaklah berguna karena yang ada dalam hidupnya hanya lahir,besar,makan,tua,dan mati tanpa disadari sebenarnya manusia yang berfikir praktis tidaklah mungkin bisa hidup tanpa rumus yang bekerja di setiap langkahnya. Lantas apa kaitannya ibadah dengan berfikir idealis?. Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang idealis bahkan Tuhan sendiri mengetahui bahwa manusia adalah tempatnya khilaf dan tidak ada manusia yang seratus persen benar dan tidak ada manusia yang seratus persen salah. Ketika kita menjudge atau memvonis seorang gelandangan dengan sebutan orang bodoh,gelandangan yang berfikir praktis,berfikir yang penting aku bisa hidup,dan mereka tidak sekolah karena tidak punya biaya ,hal itu tentulah sangat tidak manusiawi karena bisa jadi mereka menjadi orang pintar dan mampu mengubah dunia jika diberi kesempatan. Orang-orang di desa yang jauh dari sentuhan pendidikan layak,jauh dari sentuhan kasih sayang para guru,yang hanya bisa menamatkan pendidikannya sampai SMP,mungkin wajar jika mereka lantas berfikir praktis yang penting wanita bisa masak bisa momong anak,yang penting laki-laki bisa kerja dan jelas tidak mungkin mereka akan memikirkan apa itu planet Uranus,apa itu shuttle space,apa itu hukum fisika kuantum,fisika newtonian,dan sebagainya. Saya pernah mendapat wejangan dari Bapak-bapak tua di kampung ketika mencari rumput yang berbunyi “ Le,nek kowe cerito motor mabur mu,cerito matematika,cerito tembakan,geni mabur,si mbah iki yo nggak ngerti mergakne jamane dewe urip wes bedo ning tapi si mbah yo seneng,mergak ne agamane awak e dewe dikongkon golek ilmu sing akeh ,tolabul ilmi,podo-podo golek ilmu sing akeh kanggo bekal ning alam akhirat” jika diartikan ke bahasa Indonesia “ Nak,kalau kamu cerita motor terbang (pesawat),cerita matematika,cerita tembakan,api terbang,kakek ini tidak mengerti karena jaman hidup kita berbeda,tapi kakek sangat senang karena di agama kita diperintahkan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya (Tholabul'Ilmi),sama-sama mencari ilmu yang banyak untuk bekal hidup di alam akhirat. Sebenarnya dari situ,kita sebagai insan pendidikan harusnya mengetahui dimana kita harus memposisikan diri. Ketika dahulu saya kuliah mengambil jurusan Teknik Aeronautika,saya menemui banyak sekali kawan yang berlatar belakang berbeda-beda. Mereka ada yang pejuang politik sejati,ada MLM,ada mahasiswa kupu-kupu (Kuliah pulang-kuliah pulang),mahasiswa nyambi bekerja ( Ini saya ),dan lain-lain. Terlintas dibenak saya kelak mereka akan menjadi manusia idealis yang akan mengembangkan penerbangan di negeri ini. Saya memiliki mimpi besar mereka akan melakukan riset ilmiah,melakukan penelitian,mengabdi kepada ilmu pengetahuan,dan memiliki prinsip empan papan yang artinya mampu menempatkan diri sebagai insinyur teknik penerbangan sesuai dengan bidangnya bukan sebagai Strata-1 insinyur mekanik yang bisa diperintah dengan lulusan SMA/STM berlisensi. Tetapi sungguh ironi ketika banyak saya temui ketika mereka selesai study justru sibuk dengan acara lamar-lamarannya bahkan yang paling lucunya lagi ada beberapa dari mereka yang belum menyelesaikan studinya sudah terbaru-buru (kebelet) kawin dan sibuk mengurusi lamar-lamarannya. Dari situ sudah terlihat bahwa mental-mental ujung tombak teknologi kita harus tumbang sebelum waktunya perang.

    Banyak yang memprotes saya,bukankah menikah itu adalah ibadah,lantas kenapa orang ingin beribadah diragukan. Ya,betul menikah adalah ibadah. Tetapi menikah yang mana dulu? Di agama manapun,menikah adalah ibadah yang justru sudah dijanjikan oleh Tuhan sebagai pintu dari segala rizki dan perjuangan ,tetapi menikah dan lantas melupakan ilmu pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan apakah yakin tetap diridhoi yang seharusnya mereka amalkan justru lenyap dikala sebagian dari mereka terlalu sibuk menafkahi istri/suami mereka dan ujung-ujungnya mereka yang ahli di bidang A harus kerja di bidang B yang tidak sesuai dengan keahliannya dengan alasan ingin mencari uang menafkahi anak istri dan menyebut bahwa menikah merupakan salah satu cara untuk menghindari perbuatan zina yang dibenci Tuhan. Ya memang sangat betul,tetapi apakah lantas apakah ketika Tuhan mengatakan menikah untuk menghindari zina lalu Tuhan juga menyuruh ketika menikah untuk segera melupakan ilmu pengetahuan dan membatasi mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dipelajari? Inilah yang saya sebut pragmatis ketika seseorang terbaru-buru mengambil keputusan tanpa memantaskan diri terlebih dahulu. Apa bedanya mereka dengan remaja-remaja kampung yang sejak lulus SMP langsung menikah? Padahal remaja kampung yang lulus SMP menikah jika mereka diberi kesempatan,mereka bisa sekolah lebih tinggi dan mungkin bisa membangkitkan ujung tombak teknologi negeri ini. Kemana kalian para sarjana penerbangan yang diberi izin untuk mendobrak teknologi yang masih memiliki pekerjaan rumah banyak untuk negeri ini justru terlalu sibuk dengan urusan yang terburu-buru. Bukankah jika menikah dan berjalan bersama tanggung jawab mengabdi pada  ilmu yang telah didapatkan sesuai bidang akan menjadi lebih indah mewarnai hidup. Jika selama ini pemerintah baik sejak zama Sukarno hingga Jokowi yang dijadikan kambing hitam alasan kenapa penerbangan tidak maju,coba mari kita renungkan. Jangan melihat luas dahulu,lihat dulu jalan hidup yang kita pilih. Bukankah rizki kita ditangan Tuhan dan kita diperintah berusaha untuk mengambil dari tangan-Nya?. Jika ilmu penerbangan yang ada dalam diri kita sirna seiring bertambahnya usia,bukannya itu akan sia-sia dan perjuangan selama ini mengejar ilmu penerbangan tidak akan bernilai dalam hidup.

Sebagai insan penerbangan, perhatikanlah prinsip empan papan. Siapa kita dan dimana seharusnya kita berada dan berbicara. Janganlah terlalu menjadi orang pragmatis sempit dan membawa-bawa nama ibadah sebagai alasan tidak bisa mengabdikan ilmu pengetahuan karena sejatinya ibadah apapun tidak akan pernah membatasi seorang umat untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan yang kita pelajari. Apa bedanya hal itu ketika disamping kita ada tempat ibadah tetapi kita lebih memilih beribadah di atas rumput. Memang semua tergantung dari hati dan kenyamanan ketika menjalankannya,tetapi setidaknya kita tahu mana yang pantas dan lebih pantas dengan ilmu dan akal fikiran kita.


     Pesan untuk kita semua yang intinya jika kita mau sedikit bekerja keras dan berjuang berada dibidang yang kita pilih,setidaknya kita akan lebih mensyukuri hidup dan tidak menjadikan ibadah sebagai beban yang dapat membuat kita lupa akan segalanya yang telah kita kerjakan.




Kesalahan Ada Karena Ketidak Tahuan Dan Pembiaran Oleh Orang Yang Tau



Cerita ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya ketika sedang study teknik aeronautika,menghadapi oknum tidak sehat yang membawa penerbangan ke dalam partai politik yang akhirnya juga tidak sehat  dan akhirnya juga membiarkan ilmu penerbangan sia-sia dikala ternodai oleh politik yang tidak bertanggung jawab yang terlanjur mengakar dan beranak pinak.

Orang pragmatis akan mengatakan “ sekolah penerbangan untuk modal nikah”
Orang idealis akan berkata “ sekolah penerbangan untuk mengembangkan penerbangan”
Dan orang politik,baik politik yang nampak ataupun tak nampak akan berkata “ sekolah penerbangan untuk ekspansi ideologi”

Saya tidak tau apa mungkin ini juga terjadi pada displin ilmu lain,dimana sesuatu yang eksak,sesuatu yang telah mengikuti aturan alam bisa dirasuki begitu saja oleh ideologi politik.
Satu tambah satu adalah dua,tetapi tidak berlaku bagi bagi politik. Jika rekan-rekan berasal dari disiplin ilmu lain,dari kehutanan,dari pertambangan,perkapalan,dan sebagainya pernah merasa ilmu kalian tersusupi politik yang tidak sehat,maka di sini saya akan mengulas bagaimana jika penerbangan disusupi pilotik yang tidak sehat itu.

Kebakaran hutan adalah dimana hukum alam yang dilanggar ketika ilmu kehutanan dikesampingkan karena hadirnya politik yang tidak sehat.
Polusi udara dan macet adalah dimana hukum alam yang dilanggar ketika ilmu tata kota dan transportasi dilanggar juga karena adanya politik yang tidak sehat.
Dalam penerbangan, tragedy pesawat jatuh, pesawat delay,dan sebagainya itu karena hukum alam yang dilanggar ketika politik tidak sehat masuk menyusupi ilmu penerbangan yang merupakan ilmu alam,ilmu hakiki untuk depajari dan dijalankan sesuai prosedur.

Ini pengalaman saya pribadi, apakah konteks ini adalah konteks kondisional atau bukan dalam konteks general,tetapi initinya inilah yang saya lihat dan rasakan dengan alat indra dan sampai saat ini saya masih hidup sebagai saksi mata. Saya seorang muslim,Alhamdulillah orang tua saya memberika kebebasan kepada saya untuk memilih agama ketika sudah baligh dan saya memilih islam sebagai pedoman hidup saya. Menginjak dewasa.saya memilih mengambil aeronautika/penerbangan  bukan karena yang ada di fikiran saya kerja dan gaji besar,tetapi hanya satu,saya ingin semakin dekat dengan Tuhan melalui penerbangan dan teknologinya yang cukup tinggi. Saya singgah di suatu sekolah penerbangan bukan di negeri ini. Saya mengambil diploma dan memiliki teman-teman dari banyak negara yang kami semua hidup universal,hidup secara general dari berbagai latar budaya dan agama. Tidak ada diantara kami yang menanyakan apa warna kulit,ras,bahkan agama.

Singkat kata saya harus berpisah untuk kembali ke kampung halaman ke dalam negeri dan melanjutkan mengambil gelar sarjana di salah satu sekolah penerbangan dalam negeri. Sekolahnya cukup bagus,indah,dan baik karena sekolah adalah bangunan,benda mati yang tidak tau apa-apa,tetapi ternyata tidak seperti penghuni didalamnya,khususnya bagi rekan angkatan  baru saya yang ternyata ada yang merupakan oknum biang politik yang meracuni penerbangan secara diam-diam dengan ideologinya yang cukup ngawur. ( ideologi aslinya tidak ngawur,tetapi karena yang menjalankan ideologinya orang ngawur sehingga ideologi yang saya lihat baik menjadi ikutan ngawur). Penerbangan ini adalah ilmu pengetahuan,sama derajatnya seperti ilmu kehutanan,pertambangan,perkapalan,ekonomi,dan lain-lain. Tetapi dimata agama dan Tuhan,ilmu penerbangan ini bukanlah apa-apa dan bisa saya katakan ilmu penerbangan ini hanya lah sebagian kecil ilmu-ilmu di dunia yang harus kita pelajari sesuai dengan perintah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita yang belajar penerbangan,terbang tinggi menjadi pilot, cantik-cantik seperti pramugari,sebenarnya adalah sama seperti anak-anak di pondok pesantren yang mengaji, murid-murid yang belajar dengan pendeta,dengan biksu,dengan orang yang mempelajari agama,tetapi ada satu perbedaan dimana kita hanya dapat merasakan sesuatu yang bisa dilihat dalam penerbangan,tetapi dengan ilmu agama,kita dapat menalar sesuatu yang tidak bisa terlihat. Itu kenapa sebagai orang penerbangan,tidaklah etis jika kta menyombongkan diri kepada anak-anak pesantren yang mengaji dikampung hanya dengan penerangan obor,hanya dengan Alquran,sementara kita terbang dengan tablet dan menggunakan lampu-lampu yang berkilauan.

Kembali ke politik tadi, sejatinya ilmu penerbangan ini adalah ilmu yang melawan kodrat dimana manusia yang  diciptakan oleh Tuhan tidak dapat terbang tetapi dibuat untuk terbang,jadi tanpa dirasuki politik saja,penerbangan itu sudah memakan resiko yang banyak apalagi jika penerbangan itu disusupi politik dan apalagi yang menyusupi bukan orang yang membawa kebenaran dalam politiknya.

Oknum politik yang tidak membawa kebenaran dalam penerbangan itu nyata dan itu ada. Sekali lagi jika rekan-rekan menjudge atau menilai ini hanya perasaan,ini hanya pandangan,atau hanya penialian personal semata it’s okay,karena setiap orangpun termasuk rekan-rekan memiliki hak  untuk menilai juga tentang apa yang rekan-rekan lihat dan rasakan termasuk ketika membaca tulisan ini,tetapi dalam menilai harus dalam batasan tidak berhak memaksa dan merusak,itu saja kuncinya. Siapa sih oknum politik? Kenapa saya menyebut oknum. Yes, oknum karena tidak semua melakukan ,tetapi kan ada,dan itu ada di penerbangan,ditempat saya waktu itu berdiri dan belajar penerbangan.

Khilafah itu baik,khilafah itu mulia. Lantas apakah khilafah hanya untuk satu golongan organisasi atau partai saja? Tentu tidak,semua umat muslim memiliki kewajiban memperjuangkan khilafah dan berhak hidup dalam naungan khilafah. Jadi bagimana jika seorang oknum tidak bertanggung jawab yang memperjuangkan khilafah justru menodai penerbangan  dengan merekrut orang-orang yang tidak bermoral dalam membuat sebuah pesawat? Saya stop sampai disini  karena ini bicara masalah perjuangan Islam. Disini kita semua universal tidak berbicara Islam,Kristen,hindu,budha,dan lain-lain karena urusan kita dengan Tuhan itu adalah pribadi masing-masing, tetapi urusan antar manusia dan urusan penerbangan itu yang akan kita bahas. Penerbangan itu universal,semua agama,suku,ras,apapun berhak hidup dalam penerbangan,berarti itu tandanya tidak ada yang bisa mengkalim penerbangan milik satu,dua orang,milik negara tertentu,ataupun milik agama tertentu karena penerbangan adalah milik semua orang. Pesawat yang kita buat itu adalah pesawat yang secara tidak langsung mencerminkan pribadi seseorang. Bukan harus agama A,B,dan C yang diizinkan membuat pesawat,semua agama semua ras berhak membuat pesawat dan yang membedakannya hanya apakah dia membuat pesawat untuk kebaikan atau tidak,serta yang membuat bermoral baik atau tidak,itu saja.

Pesan di atas intinya, penerbangan bukanlah maha ilmu. Ilmu dari segala ilmu adalah Kitab Suci yang diturunkan Tuhan kepada manusia.Tidaklah pantas kita sebagai manusia berilmu dan beragama menyombongkan diri dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki apalagi jika ilmu yang kita miliki adalah politik yang belum tentu kebenarannya


Cintai Pesawatmu Sebagaimana Pesawatmu Melindungimu Dari Suhu Yang Dingin,Maka Bersikaplah Yang Baik Pada Sesama Supaya Hidupmu Tercermin Di Pesawatmu




Bolehkah kita bersikap sekuler? Hidup dengan memisah-misahkan diri antara satu dengan yang lain. Banyak yang mengatakan kalau pesawat adalah benda mati dan tidak bernyawa. Secara ilmiah memang betul pesawat adalah benda mati,tetapi apakah secara nurani pesawat adalah benda mati? Seseorang yang masih berfikir sekuler dan pragmatis,sudah pasti menganggap pesawat adalah sebuah benda mati yang jika rusak bisa ditendang dan dibuang seperti lempengan aluminium biasa. Berbahaya sekali jika seseorang apalagi yang sekolah di bidang penerbangan berfikir sempit yang menganggap bahwa pesawat adalah benda rongsokan hanya sekedar pelat aluminium yang dibuat membentuk tabung dan diberi sayap. Siapapun rekan-rekan,apapun agama rekan-rekan sekalian,latar belakang,suku,ras,dan agama tidaklah menjadi penting di hadapan pesawat terbang,karena pesawat terbang bukan benda yang hanya menjadi hak milik satu golongan,satu suku,ras ataupun organisasi politik atas nama agama. Pesawat ini adalah benda umum yang semua golongan berhak membuat dan memilikinya. Disini saya adalah orang penerbangan yang masih rendah ilmu dan ingin selalu terus belajar dan belajar. Saya adalah anak desa yang lahir di kampung  varia agung,seputih Mataram,lampung tengah,yang mayoritas penduduknya umat hindu,dibesarkan di pesantren,suku asli jawa yang hidup lama di Lampung,di tanah sumatera,dan besar tinggal disekililing orang bugis. 

Jika ditanya apa suku saya, saya tidak bisa menjawab secara pasti,saya hanya dapat menjawab suku saya adalah Indonesia. Disini saya melihat penerbangan sebagai sarana perekat semua golongan bukan sarana politik. Ketika membaca website ini,besar harapan saya,rekan-rekan mulai mencintai benda terbang itu yang dinamai pesawat udara. Dengan pesawat,Umat Khatolik yang ingin ke vatikan bisa berangkat dalam waktu singkat, Umat Islam yang ingin umroh dan haji bisa berangkat, dan lain-lain. Bayangkan disaat kita kehujanan,kita tertolong oleh payung yang menjadi pembatas antara titik air hujan dengan kepala. Sama dengan pesawat ketika kita terbang pada ketinggian tiga puluh ribu feet. Kita dapat bertahan hidup di atas udara bukan karena kita aman,tetapi kita hidup karena adanya sekat pembatas yang kurang dari 3 cm antara tubuh kita dengan dinginnya suhu udara diluar sana yang kurang minus nol derajat Celcius. Seperti ulasan diatas,dimana saya menempuh pendidikan penerbangan di suatu sekolah dan ternyata justru penerbangan hanya dijadikan alat politik oleh organisasi atas nama agama yang baru seumur jagung. Mengapa moral dan etika sangat diperlukan dalam membuat suatu pesawat? Jawabannya sebenarnya sederhana, pesawatmu adalah cerminan hidupmu. Seseorang yang membawa ideologi politik kedalam pesawat yang dibuatnya akan terlihat tabu jika sebuah pesawat yang diniatkan nawaitu untuk kebaikan umat justru terlihat sebagai benda yang tersiksa dikala pembuatnya memiliki prinsip egositis yang hanya mementingkan sebuah pesawat untuk kepentingan politik semata. Pemikiran seperti itu hanya akan menanamkan mindset menggunakan pesawat sebagai budak organisasi,bukan sebagai teman kerja dan teman untuk mempermudah segala urusan yang positif. Jika saya tulis penerbangan tidak baik jika diperlakukan sekuler,lantas bagimana penerbangan yang tidak baik untuk diperlakukan dengan atas dasar politik?

Sejatinya politik itu adalah ilmu pengetahuan dan terdapat seni di dalamnya. Dimanapun,ilmu pengetahuan tidak ada yang buruk,yang buruk adalah subjek,bukan objek. Politik itu adalah objek,sama seperti pesawat adalah sebuah objek. Pesawat yang dijadikan ajang politik sebenarnya adalah objek yang dikendalikan objek. Lalu siapa subjeknya? Subjeknya adalah pembuat,penggerak,dan aktivis politik itu sendiri. Yang membuat politik atas nama agama,memperjuangkan khilafah dengan indah,tetapi terlihat aneh ketika ikut masuk dan “cawe-cawe/cuap-cuap” soal penerbangan,tetapi ternyata ideologi politiknya yang bagus yang sangat indah tidak dijalankan saat ikut cuap-cuap dalam membuat pesawat dan justru dibelokkan saat merekrut orang yang keliru yang tidak bermoral dalam membuat proyek pesawatnya. Ketika mereka membela diri kalau mereka adalah korban dari ideologi politik dari politik yang lebih besar dan mereka minta dikategorikan sebagai objek,saya hanya mengelus dada dan mengatakan dalam hati “dimana otak dan hati mereka”?

Jadi,kenapa moral itu sangat penting dalam penerbangan dan mengapa kita harus mencintai pesawat kita dengan ikhlas dan atas dasar moral yang baik? Karena kita adalah subjek,kita adalah pelaku,kitalah yang membuat politik,kitalah yang membuat pesawat. Politik adalah objek dan pesawat adalah objek. Kita ada di tengah-tengah antara Tuhan dan Objek. Tuhan tidak pernah salah dan objek tidak pernah salah. Kesalahan dan kekeliruan terbesar dalam penerbangan ada di tengah-tengah,ada di subjek yaitu manusia.




Buku Penerbangan Yang Membela Kalian para Mahasiswa Teknik Penerbangan saat sidang skripsi
"Jangan Pernah Melupakan Sejarah Penulisnya"


Rekan-rekan yang sedang kuliah Teknik Penerbangan sering mengucapkan “Bukunya Anderson”,”Bukunya Roskam”,”Bukunya Mattingly”,”Bukunya  Raymer”,dan lain-lain. Tetapi justru kebanyakan rekan-rekan terlalu asyik dengan rumus-rumus serta persamaan sehingga lupa siapa penulis buku tersebut,apa latar belakangnya,beliau ahli dalam bidang apa,dan lain-lain. Bahkan rekan-rekan mahasiswa teknik penerbangan sering menyebut namanya tetapi tidak mengenal siapakah mereka yang fotonya ada di atas.

Foto dari kiri ke kanan :

Nomor satu dari kiri adalah Prof. Jan Roskam, kalau rekan-rekan yang belajar perancangan pesawat terbang atau mekanika terbang jelas tau nama beliau.

Nomor dua dari kiri, Prof. Jack D Mattingly,rekan-rekan yang belajar kosentrasi propulsi penerbangan pasti tau nama beliau juga.

Nomor tiga dari kiri, Prof J.D Anderson, untuk anak-anak aerodinamika,inilah bapak kalian. Ketika kalian belajar aerodinamika dan sering menyebut nama anderson,mulai sekarang ingatlah wajah beliau.

Nomor empat dari kiri, Prof.Robert C Nelson, rekan-rekan yang belajar kestabilan pesawat terbang saya yakin menggunakan buku beliau yang sangat terkenal yaitu flight stability and automatic control.

Nomor lima dari kiri, Prof.Oscar Biblarz, rekan-rekan yang belajar peroketan pastii juga mengenak mereka terutama bidang propulsi roket.

Benar atau tidaknya, apakah mungkin ini sudah menjadi hal yang sistematis dan mengakar ketika melihat mahasiswa/i pendadaran atau ujian skripsi dan setelah selesai sibuk foto-foto dengan bunga berwarna-warni,sibuk cipika-cipiki ,sibuk upload foto,dan sebagainya tetapi melupakan orang-orang yang mungkin telah menyelamatkan hidupnya dari ujian skripsi. Orang-orang itu bukanlah pak rektor,bukan kedua orang tua,bukan sahabat, yang namanya  tertulis pada halaman atau lembar ucapan terima kasih di bagian depan skripsi. Mereka adalah para penulis buku-buku yang dijadikan referensi dalam penyusunan skripsi. Mahasiswa yang baru keluar ruang sidang dengan keringat dingin akan menjadi narasumber penting bagi mahasiswa lain yang belum melaksanakan sidang pendadaran dan mereka akan menjejali kawannya yang selesai penadadaran dengan pertanyaan yang tidak bermutu seperti “ dosennya kejam nggak”,”kamu diapain sama pak yanto”,”kamu bisa jawab pertanyaan penguji atau tidak”,” kamu tadi ditanya apa aja”. Saya pernah sekali waktu mendekati seorang mahasiswi yang baru selesai  sidang pendadaran , yang  menggendong banyak bunga-bunga dan saya tidak tau urgensi dan manfaat dari bunga-bunga itu apa. Simple saja,mahasiswi itu melakukan riset tentang mesin piston dan saya hanya menanyakan buku apa yang kamu jadikan referensi. Dengan terkejut diri ini saya mendengar jawaban mahasiswi itu dengan kalimat “ nggak tau aku,cari aja pokoknya bukunya warna merah tebal,ada di perpus”. Rekan-rekan bisa membayangkan judul bukunya saja tidak tau bagaimana jika saya menanyakan siapa penulis dan apa latar belakang penulis buku itu.

Ada lagi mahasiswa dan mahasiswi lain yang saya dekati tidak hanya pas selesai sidang,tetapi juga saat mereka menyusun skripsi dan mereka melakukan penelitian. Mereka terlalu fokus menghitung persamaan shock wave aerodinamika tanpa memikirkan lagi siapa penulis buku yang dia pakai untuk penelitian. Kali ini dia mengerti kalau yang di pakai bukunya Anderson,tetapi lagi-lagi dia tidak tau siapa itu Anderson. Kedua contoh tersebut sudah cukup menjadi bukti bahwa jas merah belum juga ditegakkan di ilmu penerbangan,padahal buku-buku yang mereka gunakan untuk penelitian adalah senjata pamungkas di kala sidang.

Pengalaman ketika dahulu  saya pendadaran skripsi ,saya hampir pernah di skak match oleh dosen penguji karena menanyakan sesuatu yang kecil yang saya fikir tidak akan ditanyakan ternyata justru ditanyakan. Dosen penguji saya menanyakan kenapa satuan kilomol yang bukan satuan internasional ketika dikalikan dengan massa atom relatif propelan bisa menghasilkan massa propelan dalam satuan Internasional massa yaitu kilogram. Alhasil,semua referensi,semua puluhan buku digital mapun cetak yang saya bawa ke ruangan harus saya buka untuk mencari salah satu buku yang menunjukkan molalitas propelan roket menggunakan satuan Kilomol dan itu hanya ada di buku Theory of Aerospce Propulsion karya  Pasquale M. Sforza. Ketika saya bisa menunjukkan bukti hitungan tersebut,saya merasa tertolong dengan buku tersebut dan terlebih kepada Mr, Pasquale M. Sforza,seorang Professor Emeritus dari University of Florida yang masih semangat menulis.

Saya tidak butuh bunga setelah selesai pendadaran dan saya tidak berharap foto-foto  karena saya harus mengucapkan terima kasih kepada Prof. Pasquale sesegera mungkin. Semua cara saya tempuh untuk mendapatkan contact beliau.Sampai akhirnya setelah sholat maghrib,ada kawan yang memberikan contact email pribadi beliau dan saya mengirimkan email untuk mengucapkan terima kasih atas buku yang sangat berharga. Beliau tidak langsung membalas dan beliau membalas ketika dini hari pukul 04.15. Beliau memberikan salam hangat dan mengucapkan congratulations atas kelulusan saya. Dengan menyandang gelara emeritus atau professor yang bisa dibilang level tingginya professor,tetapi beliau tetaplah merendah. Beliau mengatakan jika bukunya adalah edisi pertama dan masih perlu banyak penambahan data dan masukan serta dalam waktu dekat,buku tersebut akan dikeluarkan dalam edisi kedua atau second edition dengan penambahan data-data mesin roket terbaru dan sayapun mengatakan ingin menjadi orang pertama yang membacanya.

Dari situ sebenarnya insan penerbangan seharusnya memahami makna jasmerah Bung Karno. Toga wisuda,foto-foto,dan gelar di belakang nama tidaklah ada tanpa ada buku dan juga pengarangnya. Disini saya menyarankan kepada rekan-rekan agar kedepan lebih memahami dan mengenal pengarang buku yang rekan-rekan pakai untuk menulis karya ilmiah,paper,ataupun skripsi. Mereka tidak butuh di besarkan namanya karena nama merekapun sudah besar. Mereka hanya ingin tau,sampai mana ilmu mereka yang ada di buku-buku mereka menyebar dan dipakai. Sama seperti Prof.Pasquale yang kaget karena Indonesia yang bisa dikatakan teknologi peroketannya tidak semaju India,Cina,dan Jepang,tetapi ada juga yang menggunakan bukunya untuk belajar. Bayangkan jika rekan-rekan seorang musisi yang menciptakan lagu dan lagu kalian terdengar dinyanyikan oleh masyarakat dipelosok. Kita akan merasa menjadi orang yang berguna untuk orang lain.



Saya Pakai Feet ! Saya Pakai Meter !
Saya Pakai Newton ! Saya pakai Pound Force (lbf) !
Kepada rekan-rekan teknik penerbangan dimanapun berada. Tafsir bukanlah indikator untuk menentukan kebenaran. Ilmu penerbangan ini tidak dibatasi oleh golongan,ras,atau agama tertentu. Ilmu penerbangan ini milik semua golongan kecuali golongan-golongan politik tidak sehat yang menjadikan penerbangan sebagai kejahatan. Walaupun kita hidup disatukan dengan indikator internasional seperti satuan Internasional (SI), bahasa internasional (bahasa Inggris),bukan berarti kita tidak boleh menafsirkan penerbangan dan teknik di dalamnya dengan tafsir kita sendiri. Kita pada umumnya mengira bahasa komunikasi penerbangan terutama yang sering diucapkan oleh pilot adalah bahasa komunikasi yang elegan dan menganggap pilot adalah seseorang yang identik dengan elegan,kelas tinggi dan lain-lain,padahal tidak demikian. Saya punya tetangga mantan capt pilot Merpati,ketika di masyarakat beliau tetap low profile,beliau menyapu halaman, ikut kerja bakti di RT angkut dahan pohon bersama masyarakat lainnya. Apakah capt pilot tersebut berkomunikasi dengan bahasa pilot saat kerja bakti? Tentu tidak. Di bandara ketika mereka bertemu sesama pilot mereka memiliki gayanya sendiri. “Hello capt,apa kabar? Ready untuk flight ke CGK?,tetapi coba bandingkan dengan bahasa beliau ketika kerja bakti sama saya “ mas nek nanti ke pasar ,sekalian titip ambilkan es  teh sama ambilkan garukan sampah di rumah pak pardi”. Kalau rekan-rekan melihat perbedaan kedua bahasa tersebut antara beliau di bandara dengan di masyarakat jelas berbeda. Tetapi apakah salah jika beliau berkomunikasi dengan bahasa elegan?. Tentu tidak juga,karena itu hanya tafsir.

Ada lagi tetangga saya pramugari,orangnya cantik. Tetapi terkadang banyak yang menjudge atau menilai kalau Flight Attendant atau pramugari yang cantik-cantik itu sebagai wanita yang matre,yang susah didekati,dan lain-lain. Tetapi,jika rekan-rekan melihat dari sisi yang lain,itu akan berbeda. Rekan-rekan yang dapat kenalan pramugari di FB,Twitter,dan lain-lain tanpa tau keluarganya,tanpa tau orang aslinya gimana,begitu di chat tidak dibalas atau dibalas tetapi hanya dengan huruh “Y”,”G”,dan lain-lain terkadang banyak yang langsung meniali kalau flight attendant matre,sombong,dan sebagainya,padahal tidak semua seperti itu. Tetangga saya yang pramugari cantik itu,karena saya tetangga dan kenal ibunya,saya tau kesehariannya,dan justru saya lihat biasa saja. Dia menyapu halaman,kadang dia main dengan adiknya,terkadang kalau saya kesana pinjam panci,dia lagi memarut kelapa di dapur sama ibunya atau kalau nggak dia lagi memasak sayur”.  Dan sekali lagi,perbedaan sifat dalam menempatkan diri itu adalah tafsir.

Kedua contoh di atas antara capt pilot dan pramugari ternyata ada juga perdebatan hanya masalah tafsir dikalangan mahasiswa teknik penerbangan. Dahulu ketika saya kuliah S1 Teknik Penerbangan,banyak rekan-rekan saya yang berdebat hanya gara-gara satuan british dan SI,padahal itu sama-sama satuan namun beda tafsir. Ada yang lebih suka pakai meter dan ada yang feet.  Meter dan feet sejatinya sebuah satuan yang digunakan untuk mempermudah perhitungan. Yang jadi masalah sebenarnya bukan tafsirnya tetapi valid atau tidaknya.

Tujuannya hanya satu yaitu membuat pesawat terbang. Datang dari satuan british ataupun Internasional tetaplah sama asalkan menjadi sebuah pesawat karena baik british maupun internasional sama-sama satuan yang diakui dan valid untuk membuat sebuah pesawat. Bukan tafsir menghitung rumus,persamaan,dan lainnya yang menjadi permasalahan,tetapi yang jadi permasalahan adalah tujuan dan caranya. Membuat pesawat terbang walaupun dengan satuan internasional,british,rusia,china,dan lain-lain,asalkan caranya baik,tujuannya baik,dan tidak merugikan sesama itu diperbolehkan. Tetapi,apapun rumusnya,apapun tafsirnya kalau cara membuatnya salah dan tujuannya salah,itulah yang tidak dibenarkan oleh ilmu pengetahuan.

Pisau ketika dipakai untuk mengiris bawang merah akan menjadi barang berguna,tetapi jika dipakai untuk membunuh orang akan menjadi dosa.

Korek,kalau dipakai untuk memasak akan menjadi barang berguna,tetapi jika dipakai untuk membakar rumah orang lain akan menjadi dosa.

Pisau yang digunakan untuk membunuh orang kaya untuk mendapatkan harta orang kaya tersebut dan harta tersebut dibagikan kepada fakir miskin tidak juga diperbolehkan karena tujuan baik tetapi dilakukan dengan cara salah.

Pisau yang dibuat secara rapi,halus,menggunakan rumus dan kaidah ilmiah perhitungan tetapi jika dipakai untuk membunuh tetaplah tidak baik walaupun caranya betul tetapi untuk tujuan yang salah.
Sama seperti pesawat, walaupun tujuannya baik tetapi kalau dibuat oleh orang-orang politik tidak sehat tetaplah tidak baik apalagi dibuat oleh orang yang tidak bermoral dan tujuannya juga hanya untuk kepentingan politik.


Kuliah Teknik Penerbangan di Jogja Bicaranya 
“ Nyuwun sewu Njih Mas, Mau Numpang Belajar”

Begitu Kerja di Jakarta Ngomongnya
 “ Eh Lu Kapan Kesini,Gile Lu Songong” (baca agak medok dikit)”



Rekan-rekan yang memiliki jati diri alangkah baiknya tidak mengkaitkan bahasa orang betawi dengan identik bahasa gaul. “ Kalau loe gua yang mengucapkan orang betawi,saya sangat sangat mengapresiasi dan senang mendengarnya sebagai kekayaan budaya bangsa ini yang perlu dilestarikan. Kalau ngomong loe gua karena ingin belajar bahasa betawi,karena kerja di Jakarta,itu juga bagus sekali mempelajari bahasa dan budaya saudara kita. Tetapi kalau pulang ke Jogja terus ngomong loe gua padahal bukan orang betawi dan mengidentikkan loe gua sebagai bahasa gaul,you are wrong bro! loe gua adalah bahasa daerah,bahasa warisan budaya bangsa,bukan bahasa yang menunjukkan gaul dan tidak gaul.

Hal-hal seperti ini sering terjadi dibeberapa oknum lulusan teknik penerbangan yang berasal dari Jogja, terutama yang sudah bekerja di ibukota. Memang,secara demografi dan persebaran lapangan kerja, untuk teknik penerbangan ini lebih banyak beraktifitas di ibukota dan daerah penyangga ibukota yang lain. Kampus teknik penerbangan untuk jenjang S1 penyebarannya hanya sedikit yaitu Jakarta,Bandung,dan Jogja. Kali ini yang saya soroti terutama lulusan teknik penerbangan yang berasal dari Jogja.

Saya tidak habis fikir,terkadang mendengar dan melihatnya aneh saja ada salah seorang,dua orang,atau tiga orang  alumni yang asli Jogja,Jawa Tengah,dan Jawa Timur,yang notabene dulunya gaya bicaranya  sopan dengan logat jawa halus,ketika baru beberapa bulan di Jakarta sudah loe gua loe gua dan alasannya sangat tidak masuk akal ‘yaitu biar dikira gaul”.

Lulusan teknik penerbangan yang berasal dari jogja saat ini lagi marak-maraknya berbondong-bondong ke Jakarta seperti pindah kos-kosan diwaktu lowongan perusahaan-perusahaan besar penerbangan banyak yang membuka untuk penempatan di ibukota. Mereka yang baru diterima di Jakarta  kebanyakan sangat cepat membaur dan berubah gaya bicaranya. Sebenarnya itu positif asalkan hanya sebatas kepentingan penyesuaian lingkungan. Tetapi parahnya,tidak sedikit juga mereka yang kembali ke Jogja atau Jawa Tengah dan Timur mungkin lupa jika tanah kampung halaman mereka tetap menjunjung tinggi adat dan tata krama serta tepo seliro budaya jawa yang dulunya juga menjadi rumah mereka selama menuntut ilmu, tetapi mereka tidak lagi menghormati adat dan budaya kampungnya sendiri ketika pulang dan itu ada.

Saya punya kenalan orang asli Jakarta dan dahulu sama-sama tinggal di Jogja,dia belajar bahasa jawa sama saya karena saya asli Jogja dan saya juga belajar bahasa betawi sama dia. Kami hanya tinggal bersama untuk dua tahun dan setelahnya dia kembali ke slipi,ke rumah orang tuanya. Ketika saya ke Jakarta silaturahim ke rumahnya bertemu bapak ibunya di slipi,justru dia mempraktekkan bahasa jawa halus kepada saya dan saya merasa mendapatkan arti dari kerukunan bangsa ini. Di rumahnya sehari-harinya dia mengucapkan loe gua kepada tetangga dan lain-lain tetapi saya sangat senang karena mereka masih melestarikan budaya mereka yaitu budaya betawi dan langsung saya juga mempraktekkan bahasa loe gua nyak babe yang dia ajarkan ketika di Jogja. Tetapi karena lidah ini lidah medok jawa,ya sayapun bicara apa adanya dan mereka mengerti kalau saya asli jawa walaupun bicara loe gua tetapi tetap terdengar medok. Tidak ada masalah disitu karena,saya berbicara loe gua dan kawan saya anak slipi itu berbicara panjenengan, nyuwun sewu hanya dalam konteks pertukaran budaya dan menganggap bahasa sebagai kekayaan bangsa.

Tetapi kembali lagi ke alumni teknik penerbangan tadi. Cerita ini saya tulis karena jelas-jelas ada rekan saya yang saya sebut oknum karena tidak semuanya alumni yang ke Jakarta budayanya berubah. Dia yang  asli jawa,yang dulunya medok,dulunya toto kromonya tinggi,begitu beberapa bulan disana langsung berubah bicara loe gua tetapi bukan dalam artian sebagai akulturasi budaya tetapi hanya niat untuk gengsi dan jaga image sebagai anak gaul semata.

Please dong ah, ini Jogja mas bro. Kalau pulang ke jogja hanya untuk pamer bahasa,bukan disini tempatnya,apalagi dia si oknum ini sebenarnya asli jawa yang kadang juga membuat saya dan teman saya anak betawi itu tertawa ngakak kalau dengar dia ngomong loe gua loe gua di jogja dengan gayanya yang “petentang-petenteng” lagaknya selangit hanya karena diterima di salah satu perusahaan maintenance pesawat terbang terbesar di Indonesia.

That is irony,sejatinya seorang alumni teknik penerbangan yang berasal dari Jogja seharusnya kenalkan insan penerbangan bentukan,didikan,yang lahir dari rumah Sri Sultan sebagai insan penerbangan yang tidak hanya cerdas di angkasa tetatpi cerdas dalam menjaga nama baik budaya dan bangsa.

Anak ogan yang kuliah di Jogja,ketika pulang kampung tetaplah menjunjung tinggi bahasa ogan dan menjadi tuan rumah di daerahnya. Anak bugis yang kuliah di Jogja,kalau mau makan tetaplah bilang “lokak manre” ketika di kampung,tidak perlu harus bicara bahasa jawa”, orang sunda,Madura,dan semuanya,tetaplah menjadi diri sendiri walaupun ditanah orang lain. Mempelajari bahasa orang lain  dan budaya lain itu bagus,tetapi alangkah bagusnya juga mempelajari budaya orang lain tetapi tidak melupakan budaya sendiri.


Mendapat Ilmu Saat Kuliah Teknik Penerbangan
99 % Dosen 1 % Google? atau 1 % Dosen 99 % Google ?




Beberapa mahasiswa teknik penerbangan memiliki prinsip bermacam-macam seperti di bawah ini.

“ Ijazah dan Ilmu Penting”  ( mahasiswa perfeksionis )

Kelebihan : kuliahnya nggak macam-macam,serius,dan banyak teman.
Kekurangan : Biasanya orang seperti mereka ini mahasiswa sapu jagat yang semua konsentrasi di telan tetapi ujung-ujungnya tidak kuat di satu bidang dan hanya belajar setengah-setengah untuk setiap bidang yang diambilnya.

“Ijazah nggak penting,yang penting ilmunya” (mahasiswa idealis )

Kelebihan : kuliahnya serius,benar-benar fokus pada satu bidang kosentrasi penerbangan dan menghayati dengan makna serta hati yang terdalam.
Kekurangan : Suka membangkang ideologi dosen,jika ideologi dosen dianggap ngawur. Prinsip mahasiswa ini lebih baik dapat D nggak apa-apa. Lebih baik dapat nilai D tapi terhormat daripada dapat A tapi bersekutu dengan teori dosen yang ngawur.

“Ilmu nggak penting ,yang penting cepat lulus dapat ijazah” (mahasiswa pragmatis)

Kelebihan : Mahasiswa seperti ini kelebihannya punya link tempat kerja yang banyak,karena niatnya lulus memang mau kerja, bukan mau kuliah lagi ambil S2 dan S3.
Kekurangan : Setelah lulus terombang-ambing,akhirnya ketika ada lowongan pegawai bank ,lowongan perusahaan futures atau komoditi berjangaka alias pialang saham,tetap dia embat yang penting dapat duit dan cewek ku atau istriku senang. ( biasanya orang seperti ini nggak akan ingat lagi teori penerbangan yang dipelajarinya).

Ijazah nggak penting,apalagi ilmunya nggak penting” (mahasiswa nggak niat)

Kelebihan : kelebihan mahasiswa teknik penerbangan seperti ini,kalau dia nggak rajin kuliah asalkan punya usaha lain dan usaha itu maju,mungkin itu kelebihannya.
Kekurangan : Banyak sekali.

Siapa yang baik dan tidak baik dari jenis mahasiswa teknik penerbangan di atas?

Sudah bukan rahasia lagi kalau anak kuliahan apapun jurusannya selalu membutuhkan google dalam aktifitasnya sehari-hari. Apalagi teknik penerbangan yang notabene menghitung rumus banyak,menghitung rumus-rumus pesawat tetapi bendanya tidak pernah dipegang sama sekali.

Google bagi mahasiswa ibarat nasi yang sudah menjadi makanan pokok.  Apapun tugas yang diberikan dosen selalu mengandalkan google untuk mencari sumbernya. Jadi sebenarnya dosen teknin penerbangan yang sebenarnya itu siapa? Dosen yang duduk di depan kelas dan membuka laptop waktu mengajar atau google yang setiap saat ada saat dibutuhkan?

Sebenarnya,mahasiswa teknik penerbangan yang terkadang bertanya kuliah untuk cari ilmu atau cari ijazah,itu adalah tergantung hati nurani masing-masing. Mahasiswa yang kuliah penerbangan karena sejak kecil bercita-cita menjadi insinyur pesawat terbang akan lebih mencintai dan menyayangi penerbangan sebagai teman hidupnya. Berbeda dengan mahasiswa teknik penerbangan yang mungkin sebelumnya tidak diterima masuk Akademi Angkatan Udara (Karbol) atau tidak diterima sekolah pilot,mungkin kuliah S1 teknik penerbangan hanya dijadikan batu loncatan,tetapi itu tidak masalah mengingat teknik penerbangan dan sekolah pilot masih memiliki hubungan kekerabatan yang erat. Bagaimana mahasiswa yang niatnya kuliah musik lalu dipaksa orang tua untuk kuliah teknik penerbangan?. Walaupun mereka lambat laun akan menemukan jati diri,tetapi itu membutuhkan waktu. Dari hal-hal seperti itulah terkadang timbul pertanyaan pada mahasiswa teknik penerbangan. Kuliah cari ijazah atau ilmu.

Kuliah cari ijazah atau ilmu,itu tergantung tafsir keduanya.  Seperti tulisan di atas tentang jenis-jenis mahasiswa penerbangan yang saya tulis. Ada lagi yang sempat terdengar di telinga saya waktu saya makan di kantin sebuah kampus penerbangan. Saya yang menyambar pakai topi,mendengar beberapa celotehan mahasiswa penerbangan yang berkata “ asem tenan, di ajar sama pak X nggak nyambung belas. Lalu temannya menjawab “ halah cari di google banyak”. Saya yang sedang duduk disebelah mereka hanya membatin,kalau yang di ajar pak X nggak nyambung itu adalah kasus personal,saya tidak bisa menjudge atau menilai dosen tersebut baik atau tidak, tetapi kalau yang kedua perkataan “halah di google banyak” itu saya akui seratus persen benar.  Mahasiswa teknik penerbangan adalah salah satu mahasiswa yang sepanjang hidupnya di kampus hanya akan berimajinasi dan berangan-angan tentang pesawat terbang,berbeda dengan mahasiswa tata boga yang setiap dapat ilmu di kuliah bisa langsung praktek beli bahan masakan dipasar.

Sebenarnya apa peran kampus teknik penerbangan kalau google saja bisa memberi lebih apa yang kita cari,apalagi dosen-dosen penerbangan juga banyak yang belajar dari google? Lalu siapa yang sebenarnya dosen? Google atau dosen penerbangan? Kalau kita membahas masalah ini,nanti kita akan tau apa pentingnya ilmu anak IPS bagi anak-anak science atau IPA. Teknik penerbangan adalah science bukan ilmu sosial. Kalau belajar ilmu penerbangan saja,tidak usah kuliah hanya modal modem dan komputer saja mungkin sudah lebih dari cukup. Perlunya bertatap muka dengan dosen adalah hanya satu yaitu interaksi sosial karena lulusan teknik penerbangan nantinya juga akan bekerja dan berkumpul dengan teknik industri,dengan temen-teman dari ekonomi,dengan teman-teman teknik sipil,dan lain-lain. Kecuali jika mahasiswa teknik penerbangan punya target lulus menjadi seorang agen mata-mata atau intelejen mungkin tidak perlu masuk kuliah karena pekerjaannya akan dibelakang layar.

Setiap dosen memiliki peraturan berbeda-beda. Ada dosen yang punya aturan harus hafal rumus close book, harus bisa menyebutkan bagian-bagian  pesawat saat akan masuk kelas, ada yang punya aturan kalau tidak membaca buku panduan atau diktatnya tidak dapat nilai,tetapi itu hanyalah seni,bukan ilmu pengetahuan. Dengan seni apapun asalkan baik dan membuat mahasiswa maju tidak apa-apa. Yang tidak boleh adalah memaksakan kehendak ideologi kepada mahasiswanya atau memaksakan sebuah ideologinya kepad mahasiswanya.

Pengalaman dahulu ketika saya kuliah teknik penerbangan di sebuah kampus penerbangan. Saya dan tiga kawan saya adalah mahasiswa minoritas yang belajar dengan kalangan mahasiswa dengan konsentrasi maintenance atau perawatan pesawat mayoritas paling banyak,sedangkan saya mengambil konsentrasi roket,dua  kawan saya mengambil helikopter,dan satunya aerodinamika.  Ketika kami masuk kelas kuliah sertifikasi dan kelayakan udara yang isinya penuh dengan undang-undang perawatan,undang-undang kelayakan ,lisensi dan lain-lain, Kami sempat berseteru dengan dosen tersebut karena adanya pemaksaan ideologi yang ujung-ujungnya melebar hingga ke intimidasi nilai. Jelas saja,saya dan tiga kawan saya adalah kalangan pejuang ilmu pengetahuan tetapi di jejali ilmu uang dan uang. Walaupun kami tau kalau biaya lisensi mahal,biaya sekolah pilot mahal,biaya rating A,rating B,rating C dalam penerbangan itu mahal, tetapi yang kami ingin hanya satu yaitu profesional kerja dan menanamkan nilai semangat yang mampu membangkitkan kekuatan anak bangsa ahli penerbangan negeri ini bukan malah menanamkan ideologi paksaan.  Kami juga menganggap undang-undang itu adalah buatan manusia,dipatuhi jika itu benar dan ditinggalkan jika itu salah. Ketika dosen tersebut mungkin sudah merasa ter skak match dengan argumen-argumen yang kami keluarkan,justru  ancaman nilai yang kami dapat dan itu terjadi. Di semua soal UAS yang dikeluarkan tentang mata kuliah sertifikasi dan kelayakan udara hampir sebagian berisi undang-undang dan biaya lisensi,kami empat anak walk out tidak ikut UAS karena kami konsisten dengan prinsip kami. Kami mendapat konsekuensinya diberi hadiah nilai C hanya untuk mata kuliah sertifikasi yang Cuma hafalan dan pengertian undang-undang serta biaya untuk mendapat lisensi yang bermacam-macam. Bukannya kami tidak bisa,tetapi kami merasa tidak cocok dengan materinya karena kami berempat adalah mahasiswa pejuang ilmu pengetahuan,bukan mahasiswa yang dijejali dengan ideologi materialitis ngawur yang mengagung-agungkan materi dan undang-undang buatan manusia di atas undang-undang buatan Tuhan. Satu tahun setelahnya dosen tersebut wafat dan kami tetap mendoakan yang terbaik agar beliau di terima di sisi-Nya. Walaupun sifat negatif beliau menjejali mahasiswa dengan ideologi materialistis,tetapi tidak semua pada beliau jelek,ada juga yang baik yaitu salah satunya suka memberi  roti atau susu kepada tukang kebun atau petugas kebersihan yang sedang bersih-bersih di lab nya. Ada kesempatan kami untuk merubah nilai C tadi menjadi nilai B atau A dengan dosen yang baru,tetapi kami memutuskan nilai C itu sebagai kenang-kenangan dan kami kosekuensi terhadap prinsip penerbangan kami.

Melalui pengalaman saya di atas,sebenarnya jawaban kuliah penerbangan cari ilmu atau ijazah itu simple yaitu secara formal mencari ijazah dan secara non formal mencari ilmu serta interaksi sosial. Kuliah teknik penerbangan itu 99 % justru menerapkan ilmu sosial dan interaksi masyarakat pada pelajaran IPS. Keilmuan yang sebenarnya ada dan didapat ketika kita di luar belajar di perpus,belajar dengan google,dan belajar mempertahankan prinsip ilmu pengetahuan yang kita miliki.


Kalau kuliah penerbangan mencari ijazah itu pasti,tetapi kalau kuliah penerbangan mencari ilmu itu belum tentu. Karena ilmu bisa dicari dimanapun dan kapanpun tanpa batasan.  Perkara 99 % google 1 % ilmu dari dosen atau 1 % google yang 99 % nya ilmu dari dosen itu soal selera,bukan soal hukum alam.



SMK Kuliah Teknik Penerbangan “Jago Praktek”
SMA Kuliah Teknik Penerbangan “Jago Hitungan”
SMA & SMK Ketika Lulus Teknik Penerbangan Harus “ Jago Hitungan & Praktek”


Tidak usah minder adik-adik SMK yang masuk teknik penerbangan hanya karena rumusnya banyak dan Adik-adik SMA tidak usah minder kuliah teknik penerbangan walaupun praktikum kalah terampil dengan teman-teman dari SMK. Berangkat darimanapun adik-adik sekalian,baik itu SMK atau SMA toh nantinya ketika lulus kalian sama-sama jadi sarjana teknik penerbangan.

Orang-orang beranggapan mindset SMK adalah disiapkan untuk kerja dan SMA disiapkan untuk kuliah. Itu adalah salah. Jaman dahulu para sesepuh atau orang-orang yang lebih tua memberikan mindset seperti itu karena jaman dahulu SMK memang sangat dibutuhkan untuk pembangunan,dimana pada jaman Pak Harto,Indonesia memang dalam fase pembangunan. Itu kenapa jaman ayah saya dahulu, untuk kuliah teknik saja yang ingin mengambil gelar insinyur atau kalau sekarang ST harus menempuh bisa 7 tahun sampai 8 tahunan. Bukan mereka tidak cerdas,tetapi karena kuliah jaman dahulu berkualitas,sehingga lulusan teknik yang lulusnya 7 tahun dan bisa 8 tahun begitu lulus  banyak yang langsung diterima kerja bahkan belum lulus sudah di booking oleh perusahaan-perusahaan ternama. Sekarang,kuliah teknik itu tidak ada bedanya dengan yang lain. Bahkan yang paling mengejutkan ada lulusan teknik penerbangan lulus hanya dalam waktu 3,5 Tahun tetapi tanpa skill alias masih nol untuk pengetahuannya. Sekilas mungkin terlihat hebat,ada juga orang yang mengatakan anak tersebut jenius tetapi belum tentu. Jaman dahulu,lulusan sarjana teknik atau insinyur sangat disegani oleh masyarakat,tetapi sekarang apa yang kita banggakan dari gelar ST yang notabene sudah banyak sarjana-sarjana bertebaran hingga ke pelosok desa.

Jaman dahulu baik lulusan SMK atau insinyur,mereka berdua begitu lulus sama-sama mendapat tempat di dunia kerja. Sekarang itu semua tidak menjamin. Jaman sekarang sangat susah membedakan mana yang sarjana teknik penerbangan yang jiwanya teknik dengan sarjana teknik penerbangan yang  jiwanya sapu jagat alias semua pekerjaan di embat.

SMK penerbangan yang melanjutkan S1 tidak perlu khawatir walaupun selama kuliah nantinya akan mendapat  rumus-rumus yang berat karena selama proses nanti kalian bisa beradaptasi dan juga kuliah teknik penerbangan akan dimulai dari dasar.

Sama dengan SMA yang melanjutkan kuliah teknik penerbangan tidak perlu khawatir tidak bisa handal waktu praktikum,tidak bisa membubut,dan lain-lain dibandingkan teman-teman dari SMK karena nantinya di kuliah juga akan diajarkan praktek membubut,menggunakan CNC,mengelas,merivet,dan lain-lain dari dasar.

Jaman sekarang itu susah membedakan mana sarjana teknik penerbangan yang jiwanya ada di dalam pesawat dan sarjana teknik penerbangan yang tidak menjiwai ilmu yang dipilihnya. Ada mahasiswa teknik penerbangan yang memang sejak kecil terinspirasi oleh Pak Habibi dan memang dengan tulus memilih teknik penerbangan dalam hidupnya  dan ada juga yang kuliah teknik penerbangan tetapi hanya menjadikan batu loncatan karena tidak diterima sekolah pilot atau tidak diterima masuk Akademi Angkatan Udara atau karbol.  

Bukan perkara menang SMA atau menang SMK saat kuliah teknik penerbangan,karena pemenang sesungguhnya dalam kuliah teknik penerbangan adalah ketika menjadi seorang Insinyur yang mengabdi kepada ilmu penerbangan dan bermanfaat bagi orang lain,agama,bangsa,dan negara.  Bukan malah Insinyur teknik penerbangan yang hit and run (pelajari dan lupakan).

SMA dan SMK kalian sama-sama berangkat dari baju yang sama dari putih abu-abu. Walaupun latar belakang kalian berbeda,di teknik penerbangan,nantinya latar belakang kalian akan disatukan. SMA berangkat dengan ilmu hitungan yang baik dan SMK berangkat dari ilmu praktek yang baik. Ketika lulus teknik penerbangan dan jadi insinyur, jadilah insinyur penerbangan yang jago hitungan dan praktek karena di dunia kerja nanti kalian akan menjadi seorang pemimpin yang mengayomi rekan-rekan kerja bawahan kalian. Kalau tidak bisa hitungan,bagaimana ketika ada mekanik yang meminta saran ketika ada skin pesawat yang harus direinforcement atau diperkuat kembali. Kalau tidak bisa praktek,bagaimana nanti ketika rekan kerja bawahan kalian membohongi kalian pada saat red oil landing gear harusnya ditambah 0,5 liter tetapi hanya ditambah 0,2 liter dan kalian tidak tau hanya gara-gara tidak pernah praktek.


“Jadilah Insinyur teknik penerbangan yang berhati penerbangan”



Bolehkah lulusan S1 Teknik Penerbangan kerja di BANK ?

Secara Hak Asasi Manusia : Boleh

Secara agama : Boleh karena halal

Berdasarkan Tanggung jawab ilmu : Sangat disayangkan


Lalu apa yang tidak boleh ? :

Yang tidak boleh adalah menyuruh mahasiswa yang menghamili anak gadis orang di luar nikah

untuk merancang pesawat terbang.MEMALUKAN !!



Artikel ini saya tulis karena banyak sekali kawan-kawan sebagian lulusan S1 teknik penerbangan terutama lulusan S1 penerbangan swasta yang mengeluh sulit mencari kerja.

Tidak heran,harusnya kita semua berkaca dari eyang kita Bapak BJ Habibie. Seseorang yang diakui kepintarannya oleh internasional justru ilmunya tidak digunakan untuk membangun sarana strategis oleh bangsanya sendiri. Sekilas rekan-rekan lulusan S1 Teknik Penerbangan berceloteh,” walaupun Pak Habibi ilmunya tidak dihargai oleh bangsanya sendiri tetapi pak habibi masih bisa makan,masih punya pekerjaan,daripada kami lulusan S1 Teknik Penerbangan mau nglamar kemana-mana yang dibuka hanya lowongan teknik mesin,teknik elektro. Kalaupun ada lowongan Teknik Penerbangan paling hanya dibutuhkan satu orang”. Kalian harus ingat guys, walaupun Pak Habibi masih bisa makan,masih hidup berkecukupan tetapi tanggung jawab kalian dengan beliau berbeda. Dengan kepintarannya dan kebesaran namanya,Pak Habibi  juga mendapatkan beban ilmu dan tanggung jawab yang besar untuk menjaga penerbangan Indonesia. Apa bedanya dengan kalian yang baru lulus S1 Teknik Penerbangan yang merasa sulit kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian sendiri. Pak Habibie orang besar dengan tanggung jawab besar,dan kalian masih muda dengan tanggung jawab yang masih belia sesuai dengan level kalian,intinya baik Pak Habibi dan kalian sama sama mempunyai tanggung jawab dengan porsi sama di negara ini. 

Banyak sekali rekan-rekan lulusan S1 Teknik Penerbangan yang putus asa menghadapi hidup dengan predikat kelulusannya. Hal itu akan benar-benar terasa di kala kalian memilih kuliah S1 Teknik Penerbangan memang berasal dari hati dan dedikasi,ketika melihat beberapa lowongan di Koran,di jobstreet,di jobfair,dan lain-lain justru lebih banyak membuka lowongan bagi teman-teman dari teknik mesin,teknik elektro,dan lain-lain.

Sepanjang pengamatan sosial saya,terkadang saya juga menjumpai lulusan S1 Teknik Penerbangan meratapi dan mengeluh kenapa di PLN membuka lowongan untuk teknik elektro dan tidak membuka lowongan untuk Teknik Penerbangan padahal di Perusahaan Maintenance pesawat,di airlines yang harusnya diperuntukkan untuk teknik penerbangan justru mempersilahkan juga kepada teman-teman teknik elektro,teknik mesin,teknik kimia dan lain-lain untuk melamar di perusahaan maintenance pesawat,di airlines,dan lain-lain.
Memang secara kesenjangan ilmu,pasti kalian lulusan S1 Teknik Penerbangan terbesit sedikit rasa iri kepada teman-teman dari lulusan teknik yang lain atas hal itu. Tetapi,kalian juga haruslah mengingat motivasi ketika kalian memilih S1 Teknik Penerbangan sebagai tujuan hidup kalian. Orang-orang banyak berkata kalau peluang lapangan kerja untuk lulusan penerbangan sangat banyak. Yes,itu betul. Tapi penerbangan yang mana dulu?. Yang perlu diingat,Indonesia bukanlah Negara yang full riset untuk bidang penerbangan seperti Amerika,Rusia,China,dan India. 85 % sector penerbangan Indonesia adalah sector konsumsi,bukan produksi,itu tandanya penerbangan di Indonesia bukanlah yang banyak bidang tekniknya melainkan manajemen dan operasionalnya. Kalau kalian ingin kuliah penerbangan dan yang ingin banyak lowongannya ambilah yang manajemen penerbangannya bukan tekniknya. Lalu mungkin ada yang berceloteh,loh itu PT GMF,lion teknik,dan lain-lain kan butuh karyawan maintenance?. Yes,betul. Lalu pertanyannya,apakah bisa menjamin lulusan teknik penerbangan bisa mendapat porsi besar di perusahaan maintenance pesawat jika tolak ukur karir mekanik atau staff maintenance bukan di ukur dengan nilai atau IPK yang ada di ijzah teknik penerbangan kalian, tetapi diukur dengan seberapa banyak lisensi yang kalian pegang.
Disini juga mungkin kepada rekan-rekan saya yang membaca sekaligus saya juga ingin menyumbang saran kepada beberapa kampus yang menyelenggarakan S1 Teknik Penerbangan di Indonesia terutama untuk beberapa kampus swasta yang saya lihat belum mempunyai jati diri. Beberapa alumni S1 Teknik Penerbangan,masih banyak yang saya jumpai bekerja di Bank,di perusahaan berjangka sebagai pialang saham,ada yang bekerja di perusahaan komunikasi,dan lain-lain. Bukan tidak boleh,sesuai judul di atas secara hak asasi itu sah-sah saja,secara agama boleh saja karena halal,dan secara tanggung jawab ilmu sangat disayangkan. Hal itu mungkin saja karena pihak kampus belum memiliki jati diri,apakah kampusnya adalah kampus spesialis pencetak ahli manajemen penerbangan,apakah kampusnya ditujukan untuk mencetak tenaga maintenance,atau kampusnya adalah kampus penerbangan spesialis mencetak ahli peneliti dan riset penerbangan.

Di Trisakti ada jurusan penerbangan,tetapi spesialis mereka di bidang manajemen transportasi penerbangan. Di ITB,ada S1 Teknik Aeronautika sampai jenjang S3 dan sudah jelas spesialisasi mereka lebih menjurus ke bidang pendidikan, riset dan pengembangan penerbangan. Di ATKP adalah kampus penerbangan tetapi spesialis mereka di bidang maintenance & perawatan. Di STPI,bandung pilot academy adalah sekolah penerbangan tetapi spesialis mereka mencetak pilot. Sebaiknya penyelenggara sekolah atau kampus penerbangan memiliki misi spesialisnya sendiri. Akan sangat berbahaya jika sebuah kampus penerbangan tetapi sifatnya penerbangan sapu jagat yang membuka izin penyelenggaraan S1 teknik penerbangan tetapi dalam pelaksanaannya justru memiliki substansi pengajaran yang bermacam-macam seperti kampus penerbangan sapu jagat. Dampaknya, kampus yang seperti itu jelas kurikulumnya akan berubah-ubah,tidak tau kemana mahasiswanya setelah lulus,tidak akan memiliki pendirian yang tetap yang membuat mahasiswanya bingung dan akhirnya lulusan dengan predikat S1 Teknik Penerbangan yang disiapkan untuk melakukan riset serta pengembangan justru lari ke bank,lari ke perusahaan-perusahaan yang bukan berkaitan dengan penerbangan karena sejak kuliah,kampusnya tidak memiliki jati diri.

Mungkin beberapa yang tidak setuju dengan saran tersebut,akan berargumen ‘ kalau masalah kerja itu nasib masing-masing,itu pribadi orang mau dia hidup,mau kerja dimanapun”. Yes, itu betul saya tidak menyalahkan tetpi hanya mau menambahkan kalau secara moral,sebuah kampus ibarat orang tua yang melepas anaknya untuk bersaing dengan anak-anak dari kampus lain  dan salah satu keriteria penilaian akreditasi adalah faktor alumninya. Jika lulusan Teknik Penerbangan bisa bekerja pada bidang linear atau segaris dengan jurusannya ,why not.

Apapun itu,Teknik Penerbangan di Indonesia adalah jurusan yang memasuki masa-masa pertumbuhan. Berbeda dengan kakaknya yang teknik mesin,teknik elektro yang jauh lebih tua. Suka duka,pasang surutnya teknik penerbangan di Indonesia adalah bukan salah satu atau dua pihak tetapi karena kesalahan system yang berpangkal pada penerbangan Indonesia yang 85 % nya berada pada sector konsumsi bukan riset & produksi.

Yang paling penting kalau lulusan teknik penerbangan kerja di bank,kerja di mana-mana jelas tidak bisa disalahkan karena semata bukan salah satu dua orang. Tetapi yang jelas-jelas bersalah itu kalau sebuah kampus Teknik Penerbangan yang notabene menjunjung tridharma perguruan tinggi bisa sampai kecolongan karena membiarkan seorang mahasiswanya yang bermoral bejat,menghamili anak gadis orang lain justru dibiarkan melanglang buana dan diberi kepercayaan merancang pesawat terbang apalagi setelah lulus menyelesaikan S1 Teknik Penerbangan,oknum mahasiswa tersebut malah bekerja sebagai broker dan pialang saham di perusahaan berjangka yang ujung-ujungnya tidak menghormati penerbangan itu sendiri. Mungkin hal itu yang perlu di perbaiki terlebih dahulu oleh salah satu kampus penerbangan swasta di Indonesia sebelum membentuk karakter dan jati diri kampusnya.


Oke bro,kuliahlah S1 Teknik Penerbangan karena hati nurani,bukan karena gengsi.
Kuliahlah teknik penerbangan karena untuk melahirkan sebuah pesawat,bukan malah melahirkan anak bayi  karena menghamili anak gadis orang diluar nikah. Jangan tegang-tegang ya bro,rumus aerodinamika memang susah,tetapi lebih baik dengarkan lagu di bawah ini untuk hiburan dan ambil nasehatnya supaya kuliah S1 Teknik Penerbangan kalian sesuai cita-cita diri sendiri dan orang tua di rumah. Cek lagunya dibawah ya :-D





Mahasiswa S1 Teknik Penerbangan Kerja Praktek/OJT/PKL/Prakerin di maintenance pesawat  dikadalin anak STM,salah siapa?
Jawab : Salahkan gengsimu sendiri!

Enak Banget anak-anak jurusan lain,kalau PKL dihormati di tempat magang.
Jawab : Kata Siapa?? Sekali-kali donk jadi anak teknik elektro terus magang di PLN. Jadi anak perminyakan  terus OJT di pertamina. Semua itu butuh proses.

Kalau menganggap hanya mahasiswa S1 Teknik Penerbangan yang dikadalin anak STM,”Pergimu kurang jauh & Mainmu kurang malam”



Walaupun tidak semua,tetapi ada sebagian mahasiswa S1 Teknik Penerbangan khususnya mahasiswa teknik penerbangan dari kampus swasta yang bingung atau pernah mengalami seolah mendapat diskriminasi saat melaksanakan OJT/PKL atau kerja praktek.

Tulisan ini saya tulis untuk rekan-rekan mahasiswa S1 teknik penerbangan yang merasa seolah tidak seimbang dengan anak SMK,merasa tidak di hargai di tempat OJT,yang merasa “Katanya” tidak di gubris oleh karyawan atau staff tempat  melaksanakan magang/OJT/PKL/KP/Prakerin.

Untuk rekan-rekan S1 mahasiswa teknik penerbangan yang di rahmati Tuhan Yang Maha Esa (kayak pidato), jadi begini ya sebelum lebih jauh,kita lihat dulu fungsi dan filosofi OJT itu apa. OJT = On The Job Training,PKL = Praktek Kerja Lapangan,KP =Kerja Praktek,Prakerin =Praktek Kerja Industri,dan lain-lain apapan itu namanya di kampus anda,seharusnya rekan-rekan mengerti dan tidak perlu mengeluh dengan masalah klasik yang sebenarnya itu hanyalah dinamika seorang mahasiswa yang magang di suatu tempat.
Namanya aja OJT,namanya aja KP,namanya aja Prakerin, tolong di garis bawahi ada kata Praktek. Ingat bro,sist,kalian kan mahasiswa,calon sarjana,belum sarjana,belum jadi Boss. Kalian mahasiswa yang memang secara jenjang dan tanggung jawab disiplin ilmu disiapkan sebagai seorang tenaga ahli yang akan menghitung rumus-rumus,bukan naik-naik pipa,bukan untuk bongkar-bongkar baut.

Kalian kalau selama PKL diperlakukan atau pernah dikadalin anak STM hanya gara-gara nggak bisa rivet body pesawat,hanya gara-gara nggak bisa refill red oil untuk hidrolik landing gear pesawat,ya jangan marah. Kalau nggak mau di kadalin ya mending OJT aja di Bank. 

Ini pengalaman saya pernah membaca status FB salah satu mahasiswa Teknik Penerbangan di Kampus Swasta berkeluh kesah karena ketika magang di salah satu perusahaan maintenance pesawat justru nggak di ajak kerja dengan staff-staff perusahaan disitu,malah katanya disuruh nonton nggak boleh pegang alat. Dan akhirnya mahasiswa tersebut mutung,bahasa gaulnya ngambek sampai-sampai pulang kampung ke kampus asalnya. Pengecut sekali orang seperti itu!

Ya iyalah wajar kalau nggak disuruh kerja,nggak diizinin pegang alat,pegang pesawat,dan lain-lain. Jawabannya simple “ Saiapa Loe”,kecuali loe yang yang punya perusahaan tersebut.
Yang kedua,mahasiswa tersebut komen lagi di FB nya (maaf tdk saya screenshoot takut yang bersangkutan tambah ngambek). Ybs bilang,tapi kok anak-anak SMK penerbangan di kasih izin,kok dibolehin,sedangkan dirinya merasa Mahasiswa,Calon Sarjana Teknik Penerbangan. Dan lagi-lagi inilah kesalahpahaman yang seharusnya sudah di antisipasi oleh kampus asal mahasiswa teknik penerbangan tersebut.
Rekan-rekan saya yang baik hatinya,khususnya untuk rekan-rekan mahasiswa S1 Teknik Penerbangan dimanapun. Kalau di hati kalian masih terbesit merasa dikucilkan waktu PKL,merasa nggak dipakai waktu KP,merasa nggak di hargai waktu OJT,sekali lagi ingat bro,kalian datang kesana untuk praktek. Bukan menghitung rumus-rumus laplace,bukan untuk menghitung persamaan Bernoulli,bukan untuk menghitung intergral subtitusi atau parsial kecuali kalian PKL/KP/OJT di BPPT,LIPI,atau Lapan yang notabene adalah tempat penelitian (tapi itu lain cerita,disini kita focus di perusahaan maintenance atau perusahaan yang banyak kegiatan bongkar pasang dan membutuhkan perkakas).

Kalian merasa nggak boleh pegang alat,kalian nggak digunakan waktu PKL,dan merasa di kadalin anak STM yang lebih jago bongkar-bongkar baut daripada kalian yang mungkin rivet gun saja masih bingung. Tetapi pernah nggak sih bro,sist,dalam benak kalian berfikir andaikata anak-anak STM tersebut kita balik. Mereka yang magang di laboratorium atau magang menjadi dosen yang penuh dengan hitungan rumit,bukankah mereka anak-anak STM juga akan merasakan hal yang sama dengan kita ketika kita berada di dunia yang bukan tempat semestinya kita tinggal. 

Yes,betul. Kalian yang memilih tempat magang di bagian mekanik/engineering,disitulah rumah dan dunia bagi anak-anak STM. Sangat jelas sekali mereka yang lebih diperhatikan perusahaan karena mereka memang dididik dan disiapkan untuk bekerja pada posisi tersebut. Perusahaan menganggap mereka sebagai tenaga siap kerja,sedangkan dimata staff-staff perusahaan, kalian yang mahasiswa S1 pastinya akan dilihat sebagai anak baru,anak yang tidak bisa kerja tetapi akan menjadi calon boss.

Kenapa kalian mahasiswa S1 Teknik Penerbangan harus PKL? Yes,karena kalian akan menjadi seorang pemimpin,seorang yang akan mengambil keputusan. Bagaimana jika seorang pemimpin tidak tau apa yang dikerjakan rekan-rekan bawahannya. Seperti yang saya bilang,Pak Habibi bisa kok merivet,beliau bisa merivet lap joint fuselage pesawat,tetapi dengan kelebihan dan kecerdasannya,beliau tidak perlu harus merivet karena beliau memiliki amanah besar untuk mendesain,menghitung,dan menganalisa benda yang akan dirivet nantinya oleh rekan-rekan STM ataupun D3. Jadi,kalau kalian merasa ketika magang atau PKL dikadalin anak STM tetapi tidak terima/mutung/ngambek,pertanyaannya apakah yakin kalian sudah lebih pandai dari mereka secara teori dan juga praktek?

Mau tidak mau kalian memang harus sedikit merasakan asam garam ketika kalian mahasiswa s1 Teknik Penerbangan yang dijejali dengan teori dan teori harus berhadapan dengan anak-anak STM di dunia mereka. Tidak perlu ngambek,kita semua punya dunia kita masing-masing dan kebetulan saat PKL atau KP kita sedang menyelami dunia anak-anak STM.
Hal seperti itu tidak perlu di takuti karena yang terpenting seraplah ilmu dari mereka. Mereka yang jago praktek bukan tidak mungkin akan menambah wawasan dan dapat mensinkronkan antara teori dengan dunia nyata yang mereka kerjakan.
Jangan dikira pak Habibi enak,jangan lihat Pak Habibi yang sekarang,tapi lihatlah pak Habibi yang dulu yang mungkin saja pernah PKL dengan tenaga-tenaga terampil yang jago praktek sementara pak Habibi dulunya jago di hitungan sebagai tenaga ahli. Pastinya pak Habibi sudah banyak makan asam garam,suka dukanya PKL atau magang sudah di gelutinya. Jangan dikira saya juga enak-enakan. Saya juga sekaligus berbagi pengalaman kenapa OJT/PKL itu tidak perlu di ambil hati ketika kita dikucilkan atau dikadalin anak STM yang lebih jago,karena kalau kita sabar,Insyallah kita akan memiliki banyak teman baru yang berasal dari dunia penerbangan yang lain.

Saya dulu waktu kuliah,hanya membaca teori tentang propulsi roket. Setiap hari makanan saya hanya rumus-rumus roket,bahan bakar roket,dan lain-lain. Saya belajar apa yang ada dibuku dan tentunya apa yang ada di buku-buku tersebut rata-rata mendekati ideal atau tidak seperti aslinya. Begitu saya magang/OJT di tempat asli pembuatan roket,apakah lantas saya yang calon sarjana disandingkan,diberi ruangan khusus dan duduk satu ruangan dengan kepala,dengan pimpinan,dengan boss lembaga tersebut? Jelas Tidak.
Justru saya di sandingkan dan di beri ruangan dengan pekerja-pekerja lepas (outsourcing) yang bisa dibilang lulusan SMP,STM,bukan satu ruangan dengan pimpinannya yang bergelar doctor,insinyur ,dan lain-lain. Apakah saya gengsi? Apakah saya ngambek? Jelas Tidak!
Ketika saya yang hanya membaca buku rumus-rumus setiap kuliah,yang hanya berupa teori harus berbaur dengan pekerja-pekerja nyata dan saya juga bahkan pernah disindir dengan kalimat yang menusuk hati oleh salah seorang pekerja lepas di lembaga tersebut “ mas kuliah kok ini aja nggak tau,kok itu nggak tau, di kampus belajar apa?” sama kan bro,sist dengan yang kalian alami saat OJT atau PKL di tempat kalian? Jadi saya nulis panjang lebar gini bukan asal-asalan,tetapi karena setidaknya saya juga pernah menjadi seperti kalian.
Saya tetap sabar dan berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya tetap merendah dalam segi ilmu tetapi bukan untuk menjadi orang rendahan. Karena saya tetap komitmen untuk belajar. Apapun yang pekerja-pekerja itu kerjakan saya ikut saja dibelakang mereka. Karena kesabaran itu,saya mendapat sebuah ilmu baru yang agak berbeda dengan apa yang tertulis di buku.



Ketika saya menyela mereka,kenapa bahan bakar roketnya diberi dosis sekian gram,sedangkan di buku yang saya pelajari dapat diberi dosis lebih dari itu supaya pembakaran roketnya sempurna. Tetapi apa yang mereka jawab? Mereka hanya menjawab,kami terbiasa seperti ini mas. Dulu pernah dikasih lebih tetapi selalu ada lubang di tengah desain bahan bakarnya. Dari jawaban itu,rekan-rekan dapat memetik pelajaran. Yang pertama, dengan PKL atau OJT kita jadi tau selama ini tidak semua mungkin yang ada di buku akan sama dengan prakteknya di lapangan. Yang kedua dengan OJT,harusnya kalian sekarang tau dan tidak perlu ngambek lagi dengan anak-anak STM karena kita semua punya porsinya masing-masing. Mereka akan bekerja sangat  bagus sesuai SOP atau prosedur,tetapi ketika ada masalah baru muncul,mereka  tetap akan membutuhkan kita tenaga ahli untuk menjadi problerm solver dari masalah tersebut. Mungkin ketika kalian dikadalin dengan anak STM “masak kunci 10 nggak hafal”,dilain sisi ketika terjadi kerusakan pada system bidang miring baut yang harus diukur seberapa tekanannya agar katup yang dikencangkan baut tersebut tidak bocor,maka kalianlah yang akan berperan sebagai tenaga ahli.

Kalian mahasiswa calon sarjana Teknik Penerbangan,ketika OJT jangan bekerja dengan manager,dengan boss,dengan pimpinan yang duduk di dalam kantor,tetapi bekerjalah dengan rekan-rekan anak anak STM,dengan staff-staff mekanik,dan lain-lain karena disitulah nyawa dari PKL atau OJT itu sendiri ketika kalian tau apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Tidak perlu lagi ada rasa ngambek/mutung/kesal saat PKL atau OJT. Buanglah gengsi kalian. Jika memang kita OJT di tempat yang benar sesuai Jurusan kita,Insyallah Tuhan akan selalu bersama kita. Lebih baik saat OJT dikadalin anak STM tetapi setelah lulus jadi pimpinan yang baik dan kita PKL/OJT di tempat yang sesuai,daripada Jurusan Teknik Penerbangan malah OJT sebagai staff Passasi penerima tamu di bandara atau penjaga longue. Bukan berarti staff passasi jelek,mereka sangat bagus dan sangat dibutuhkan bagi kenyamanan penumpang tetapi jika yang OJT adalah anak-anak jurusan hospitality sector atau sekolah pariwisata atau maksimal manajemen penerbangan. Bukan malah mahasiswa teknik penerbangan OJT sebagai resepsionis bandara. (dan itu ada lho :-D heee ).





Ada apa dengan ulah “OKNUM” Hizbut Tahrir Cabang sekolah penerbangan di ST*A?





(Ini bukan tentang agama,atau urusan vertical manusia ke Tuhan,tetapi lebih horizontal antara manusia dengan manusia)

Sebelum saya mengurai satu persatu,ada beberapa poin yang harus kita sepakati tentang beberapa ajaran mulia dari Hizbut Tahrir.

1.      Menjalankan syariat islam secara Kaffah tidak setengah-setengah. Intinya tidak boleh walaupun sudah sholat tapi masih mabuk. Tidak boleh sudah berinfaq tetapi masih korupsi. (Sipp good,semua orang bahkan semua agama setuju dengan ajaran ini)

2.       Memberikan masukan saran kepada pemerintah tentang kebijakan pemerintah yang mereka anggap salah dan semuanya salah. ( memberikan masukannya bagus,tetapi menyalahkan semua yang ada pada pemerintah kok sepertinya kurang pantas)

3.       Dan lain-lain

Baiklah karena mereka bisa mengkritik dan lain-lain,harusnya mereka semua harus siap dengan kritikan saya dan mungkin sebagian besar warga. Tetapi saya tidak punya kapasitas mengkritik Hizbut Tahrir skala besar karena untuk mengkritik Hizbut Tahrir skala besar haruslah dengan orang yang memiliki ilmu agama skala besar (saya hanya orang yang terus belajar dan belajar agama yang saya anut tanpa menghakimi ajaran agama lain dan tafsir lain,tetapi saya mempunyai kewajiban mengingatkan semua orang yang keliru dalam bersikap antara sesama manusia). Disini saya akan mengulas keanehan Oknum HTI di salah satu sekolah teknik penerbangan swasta di Yogyakarta karena website ini adalah membahas penerbangan sampai ke akar-akarnya dan saya  menggunakan kata “OKNUM” oke (Oknum adalah sebagian,bukan semua). Yang itu artinya saya tidak mempermasalahkan agama. Apapun agamanya monggo silahkan mau Islam, Kristen, Hindu Budha, dan lain-lain asalkan baik kepada sesama , that is no matter.  

Sekarang kita sepakat ya, Menghamili anak gadis orang di luar nikah adalah perbuatan zina,perbuatan yang tidak terpuji yang dilaknat Tuhan Yang Maha Esa right! Oke disitu permasalahannya,karena saya tidak mau mengorek HTI lebih dalam. Hanya permasalahan itu saja yang saya rasa menjadi kurang pantas.

Menghamili anak gadis orang di luar nikah,apakah dilakukan oleh oknum HTI di ST*A Yogya? Tentu tidak.
Walaupun yang menghamili sempat mengaku-ngaku anak HTI,tetapi saya tidak bisa dibohongi karena gini-gini saya pernah mengikuti halaqohnya HTI dan saya tidak pernah melihat batang hidungnya Mr.X . Justru yang saya permasalahkan adalah pentolan HTI di ST*A yang jenius,pandai berdakwah,memiliki sifat baik dan saya anggap figure pendobrak masa depan,justru mengamini dan mengayomi anak didiknya yang menghamili anak gadis orang di luar nikah.


Situ waras? Situ nggak lagi tidur kah?

Hei bung,mahasiswa yang you lindungi,yang you jadikan asisten untuk merancang pesawat you itu di hujat masyarakat karena meniduri anak gadis orang. Dan you mengamini menanamkan image doa-doa , you sebarkan kepada seluruh mahasiswa di ST*A bahwa pernikahan adalah hal yang mulia,ibadah yang di Rahmati Allah SWT. Miris sekali,katanya Hizbut Tahrir melakukan segala tindakan secara Kaffah? Kenapa kok you hanya mengeluarkan ke khalayak umum tentang ijab qabulnya saja? Kenapa kok you tidak menceritakan kepada orang-orang mahasiswa yang masih polos itu kalau Mr.X yang you lindungi ini dulunya bisa ijab qabul secepat kilat karena ketahuan si fulan telah dihamili. Lho katanya HTI bertindak secara kaffah? Kenapa kok menyiarkan secara setengah-setengah tentang kelakuan Mr.X yang menghamili si fulan diluar nikah. Apakah you dilemma,kalau tidak memberitahu,you akan bersalah sebagai pendakwah HTI karena mengumpatkan kesesatan. Kalau you memberitahu,you akan merasa melakukan perbuatan ghibah.

Kalau you tidak kedua-duanya akhirnya you memanfaatkan Mr.X  untuk merancang pesawatmu.Paling you menjawab,itu urusan dia,urusan saya dan dia hanya profesionalitas dalam merancang pesawat (mudah-mudahan bukan jawaban ini yang ada di hati kecil you karena jawaban ini juga bukan jawaban dari seorang HTI yang kaffah).  Dan akhirnya saya mengambil kesimpulan kalau sebenarnya Hizbut Tahrir Cabang ST*A masih bermasalah karena ulah you sendiri yang menjadi representasi dari Hizbut Tahrir ST*A. Saya tidak menjelekkan Hizbut Tahrir secara keseluruhan atau menjelekkan ajaran Hizbut Tahrir. Karena HTI adalah tafsir,bukan ajaran,bukan pula agama yang harus saya permasalahkan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa.
 
Lalu Ada apa dengan  Hizbut Tahrir cabang ST*A Jogja? jawabannya,lebih baik untuk adik-adikku yang sudah masuk ST*A atau akan sekolah di ST*A,saya sarankan tidak usah mengikuti tafsir-tafsir agama yang baik,yang mulia tetapi ujung-ujungnya bermasalah di tangan orang yang kurang berintelektual. Kalau memang keyakinan kalian  adik-adikku kuat dan bulat,tidak setengah-setengah ingin membela pembebasan dunia ini dengan jalan Khilafah dan ingin berjuang bersama HTI,silahkan berjuanglah bersama mereka secara kaffah menurut apa yang kau yakini benar karena saya bukan anti HTI,saya tidak mempermasalahkan tafsir karena itu hak mereka dan saya juga bukan seperti orang-orang  diluar yang memaksa HTI untuk eksodus dari Indonesia karena mengkritik pemerintah tetapi masih membuat KTP,masih memakai produk Indonesia. Saya hanya risih dengan beberapa oknum yang katanya melakukan perjuangan pembebasan secara kaffah tetapi malah mendukung maksiat secara kaffah juga. Saya sarankan tidak perlu gabung di HTI ST*A karena alasan logis yang saya anggap beberapa oknumnya masih bermasalah. Bergabunglah dengan syabab HTI lainnya di luar ST*A  yang mungkin saja diluar sana lebih berintelektual,lebih memiliki kekuatan besar daripada HTI ST*A yang beberapa oknumnya kualitasnya masih dipertanyakan. Sepertinya ilmu penerbangan masih belum pantas diberikan tafsir HTI oleh oknum yang ilmunya masih setengah-setengah. Hizbut Tahrir is OK,but OKNUM Hizbut Tahrir ST*A NO!!!


Bumi Datar vs Bumi Bulat
(Flat Earth vs Globe Earth)



Assalamualaikum Wr.Wb

Sebelum saya membahas,saya ingin bercerita kenapa akhirnya saya menulis tentang perdebatan antara kawan-kawan FE & GE. Simple saja, dulunya yang Tanya sedikit,tapi lama-lama people power ini bertanya Tanya terus “ om orang aerospace kok diam? Om kan kuliah juga teknik fisika kok nggak  ikut bicara? Om kan skripsi &thesisnya tentang roket kenapa kok lihat anak FE dan GE malah diam?”.
So, dari awal sepakat ya,kalau saya tidak memihak FE atau GE. Kedua,sepakat lagi ya saya ini saudaranya FE dan GE,ketiga saya tidak memihak Lapan,lembaga yang saya cintai,dan juga saya tidak memihak Cak Nun,guru maiyahan saya,walaupun Prof Thomas Djamaluddin,Cak Nun,dan bahkan Habib Rizieq juga meyakini bumi bulat, bukan berarti ketika saya menghormati beliau lantas saya di cap anak GE.
Banyak sekali debat kusir,ribut,berkelahi,mencaci antara FE dan GE di instagram,forum,dan lain-lain yang saya lihat. Gini-gini mata saya kemana-mana lho,bahkan FE menyuruh observasi juga saya lakukan kok. Tetapi ya saya simpan untuk diri saya sendiri,menjadi kepuasan saya sendiri dari hasil observasi saya.  Kalau begitu,berarti saya menyimpang dari perintah agama karena mendapat ilmu tetapi tidak ikut menyebarkan kepada yang tidak tahu .Stoppp,nanti dulu. Nanti saya jelaskan. Ada lagi mungkin bilang saya kikuk,plin plan nggak memilih FE atau GE. Stoppp nanti saya jelaskan. Daripada stop stop terus mending saya jelaskan ya. Ojo tegang yo rekkk,santai saja,kita belajar bersama,kita ini bersaudara.,FE nyuruh observasi ya saya
observasi,GE menyuruh saya menghitung ya saya menghitung. Okee

1. Sejarah FE & GE itu gimana ya mas? Kok malah sampai pada ribut.

Jawab : Itu sih sudah lama,Flat Earth Society atau Flatter atau anak-anak FE di setiap negara pengikutnya banyak. Kubah bumi,benua lain di luar antartika,tesla coil,misi fishbowl,matahari dekat hanya 5000 Km dan lain-lain yang dikemukakan FE,waktu dulu saya membaca,mendengar argument anak-anak FE tersebut dalam bahasa inggris karena pas lagi rame di luar negeri,tetapi belakangan ini Alhamdulillah ada kawan kita akun FE101 membuat video dan mentranslatenya dalam narasi Indonesia. (Alhamdulillah bukan berarti Alhamdulillah pada teorinya,tetapi Alhamdulillah masih ada anak bangsa yang memikirkan science dasar yang mungkin sebagian orang tidak memikirkannya karena mereka sibuk politik,mikir beras naik,harga bahan pokok naik,tetapi mereka masih sempat memikirkan bentuk bumi). Alhamdulillah nggak sia-sia ane kuliah aerospace engineering,minimal ada teman senasib yang ikut memikirkan masa depan bumi. Jadi FE itu ada bukan karena akun FE101,tetapi sudah ada sejak lama dan di Indonesia baru rame-rame sekarang ini.

2. Lalu gimana denga teori-teori anak-anak FE yang katanya video FE101 adalah video brainwash,alat cuci otak supaya kita percaya bumi datar?

Jawab : Alhamdulillah,saya sudah khatam video FE101 s/d yang terakhir Realitas FE yang video ke 11 ketika artikel ini saya tulis dan saya menunggu yang edisi 12 nya. Dan Alhamdulillah terima kasih teman-teman FE sudah mengingatkan,dalam tanda kutip “ mengingatkan ayat-ayat Allah SWT di setiap videonya. Kalau tanggapan saya tentang  teorinya FE di video? Ya rahasia donk. Kalau saya jawab setuju dengan teori FE nanti saya didemo anak GE. Kalau saya bilang teori GE betul nanti saya di demo anak FE. Jadi apa yang saya kagumi dari video FE101? Yang saya kagumi adalah ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan teman teman FE. Sangat indah sekali.  Membuat saya ingin terus mengaji seperti anak kampung polos yang mengaji membawa obor ke langgar tanpa mendebatkan bumi bulat atau datar. Jadi apakah teori FE betul atau salah,jawabannya hanya ada di dalam hati saya. Itu urusan saya dengan Tuhan saya Allah SWT dan saya sepertinya ingin kembali lagi ke langgar mengaji bawa obor di kampung,yang setiap langkah kaki saya menuju langgar  ditemani bintang-bintang di langit.

3. Berarti mas antipati,bersikap apatis dengan perdebatan bentuk bumi?

Jawab : ah kata siapa? Kalau kemarin,saya belum menulis ini mungkin iya saya apatis,walaupun diam-diam juga saya memantau pertarungan sengit antara anak FE dan GE bagi saya itu adalah bentuk kepedulian saya,tetapi saya menulis artikel ini adalah salah satu tanggung jawab saya sebagai umat yang ingin semua manusia ini rukun. Tidak berkelahi hanya gara-gara bentuk bumi.  Karena, nyatanya si FE101 pembuat video menyebutkan dalam videonya “mengapa kita bermusuhan,kita ini bersaudara,mereka saudara kita,yang nggak percaya ya sudah”. Lalu,FE101 kan menyuruh kita untuk observasi sendiri,riset sendiri,nah betul itu mending meneliti sendiri seperti saya,tetapi kalau dapat hasil ya saya simpan dalam hati saja. Jangan malah di show up ujung-ujungnya ribut,saling hina.  Buat apa di gembar-gemborkan,yang ada nanti akan ada dua kubu yaitu kubu FE dan GE seperti sekarang ini yang lama-lama mungkin bisa saja menjadi partai politik FE dan partai GE lalu ikut pemilu. Nyatanya slogan people power ketika sudah benar-benar berpower pasti akan dinaungi sebuah manajemen & system dan ujung-ujungnya berpolitik seperti salah satu partai politik baru di Indonesia yang dulunya hanya perkumpulan pemuda bangsa malah jadi parpol. Jadi,untuk FE101 ketika menderukan people power,lebih baik dikaji lagi. Bukankah Important person power lebih mujarab daripada people power. Wahyudi,remason,jumlahnya sedikit kok dan nggak punya people power tapi nyatanya system dzolim mereka berkembang. Apakah people power? Saya jawab bukan.jawabannya karena kita kalah start dan mereka lebih banyak menjalankan misi dengan black ops,kode-kode rahasia,dan lain-lain. Kenapa system dzolim elit global yang lebih banyak behind the screen kok malah mendominasi? Ya karena mereka behind the screen dan menunjuk boneka berupa important person yang berpower sebagai garda depan. Seperti  posisi kita yang hidup di kedzoliman elit global ibarat ikan yang hidup di danau yang kelilingnya adalah jarring keramba. Kita ingin bebas tetapi tidak bisa bebas karena terhalang jaring keramba,sama seperti kita hidup terhalang oleh
system dzolim. Ketika ada satu ikan yang berusaha merobek atau menggigit jaring langsung ditangkap dan digoreng seperti presiden kennedy yang berusaha merusak batas system elit global langsung ditembak mati. Lebih baik FE ini menggunakan important person power sebagai garda depan juga kalau memang ingin mengungkap kedzoliman. Bukankah mencekram kepala petinggi lebih baik daripada mencengkram kepala banyak orang?. Ubah mindset pola pikir presiden tentang bentuk bumi - presiden menginstruksikan menteri pendidikan untuk merubah kurikulum tentang bentuk bumi –semua siswa mengenal bentuk bumi dan cerita dari mulut –ke mulut-selesai. Sama saja ingin menjernihkan air danau yang tercemar? Gampang. Beri obat penjernih dari hulu dan biarkan obat mengalir ke hilir bersama air yang tercemar. Ingin merubah mindset bumi datar? Silahkan ubah mindset pak presiden di hulu dan biarkan mengalir ke hilir,ke masyarakatnya. Itu baru level Indonesia. Mau level dunia? Ya ubah saja mindset UNESCO ikuti alurnya ke hilir kan beres. Lalu kalian bertanya,PBB itu isinya elit global,UNESCO apalagi isinya elit global,ya kalau gitu fight organisasi vs organisasi. Tumbangkan UNESCOnya,tumbangkan NASAnya langsung. Bukan menyebarkan doktrin ke rakyat kecil atau orang awam,mengajak orang awam untuk melawan NASA. Orang-orang desa boro-boro mikirn NASA,rudal patriot,misi fishbowl,yang ada mereka berfikir besok bisa makan atau nggak walaupun system makanan mereka juga dipengaruhi kedzoliman elit global. Ingat,pegawai NASA nggak banyak kok,jadi cukup lawan dengan mencari kaum terdidik FE sebanyak karyawan NASA & serang NASA dengan organisasi vs organisasi,itu baru ksatria.



4.Sudah nonton video Prof.Thomas Djamaluddin,kepala Lapan kedatangan tamu teman-teman FE belum mas?

Jawab : Sudah, saya sangat bangga dan juga menyayangkan sekali. Saya bangga Pak Djamal bersedia memberikan waktunya,meluangkan waktu dikala sibuk untuk menemui kawan-kawan FE. Tidak seperti obama malah teriak-teriak we don’t have much time for meeting with Flat Earth Society,presiden apaan tuh. Tetapi kok Kenapa saya menyayangkan juga? Saya menyayangkan kok Pak Djamal menjelaskan astronomi seorang diri dengan tamu-tamu teman-teman FE. Walaupun beliau Kepala Lapan,tetapi saya ingin beliau juga mengundang ahli propelan,ahli satelit,ahli kendali roket dari pustekroket karena kawan-kawan FE mengajukan pertanyaan yang juga sangat spesifik termasuk salah satunya bahan bakar roket ISS,kenapa bergerak melengkung,dan lain-lain yang lebih detail bisa dijawab dengan kabid propelan dari pustekroket. Tetapi,overall saya sangat mengapresiasi pertemuan keduanya. Kawan-kawan FE juga menunjukkan keberaniannya langsung mencari data primer,merekam meeting dengan Pak Djamal,membuat bukti rekaman kunjungan  sebagai salah satu metode penelitian yang valid dan tidak menyia-nyiakan waktu yang diberikan Prof Thomas Djamaluddin.

5. Lalu bagian mana yang harus saya fokuskan dari video FE101 & bagaimana saya harus menanggapi hal ini?

Jawab : Elit Globalnya saja supaya kalian tidak bertengkar antara anak FE dan GE. Di video FE101 menekankan dua hal yaitu Bentuk bumi dan elit globalnya. Kalau saya pribadi,saya lebih fokus ke elit globalnya karena bagi saya,apapun bentuk bumi,bulat,datar,atau apapun,Saya ini manusia yang diciptakan dan ditugaskan untu berfikir dan mencari ilmu sampai mati. Ketika saya sudah tidak sanggup memikirkan sesuatu yang hidayahnya belum saya dapatkan,semua akan saya serahkan kembali kepada Allah SWT. Apakah Allah akan marah ketika saya tidak tau bentuk bumi yang sebenarnya? Mudah-mudahan Allah tidak marah karena salah satu sifat Allah adalah arrahman (Maha Pemurah). Naik haji saja,Beliau sangat adil yaitu naik haji apabila mampu. Lantas apakah kalau saya tidak naik haji karena tidak punya rezeki lalu Allah marah? Jelas tidak. Analoginya apakah kalau saya tidak bisa beli roket,tidak ada rezeki untuk terbang ke luar angkasa lantas Allah akan marah? Mudah-mudahan tidak karena Arrahman,Allah maha pemurah. Yang tidak dikehendaki Allah SWT adalah tidak berusaha,itu saja. Tidaklah mungkin semua kekuatan Allah,kebesaran Allah dapat kita fikir dengan nalar walaupun kita diperintahkan untuk berusaha menemukan tanda-tanda Allah dengan nalar dan panca indera kita. Kalau kita tidak menggunakan nalar atau tidak bersyukur dengan kebesarannya,itulah yang Allah tidak suka. Lain halnya dengan elit global(wahyudi,remason,mamarika dan lain-lain). Mereka adalah buatan manusia yang digunakan untuk menghancurkan manusia atas inisiatif syetan. So,jelas itu di depan mata. Daripada berkelahi dengan sesama saudara karena bentuk bumi,lebih baik kita bersatu melawan elit global tersebut. Bumi datar atau bulat itu kebesaran Allah dan hanya Allah yang tau,tetapi system dzolim elit global itu bukanlah yang Allah suka. Stop berkelahi antara FE dan GE. Bersatu saja hadapi elit global karena elit global jelas jelas musuh FE dan GE. GE ada bukan karena setingan konspirasi elit global seperti yang FE katakan. GE adalah teori dan FE juga teori. Kalau tidak ada elit globalpun,andaikata ada orang yang menggunakan GE apakah GE akan dicap jelek? .

Analogi yang gampang,yang tidak ada kaitannya dengan GE yang sering menimbulkan perdebatan karena sulit diterima nalar dan panca indera contohnya mahluk halus atau jin. Allah menyebutkan Jin. Jin  terbuat dari unsur  api. Ada kalangan menyebut dan mempercayai  jin berwarna putih,rambutnya panjang tetapi tidak merah seperti api . Ada yang mengatakan jin kepalanya gundul botak kaya anak kecil tetapi tidak seperti api. Apakah lantas Orang yang merekam penampakan jin yang jelas jelas nyata terekam disebut konspirasi wahyudi,remason,hanya Karena rekaman jin nya tidak seperti api yang dikatakan di Alquran. Kembali lagi,FE adalah teori dan GE adalah teori.  Kalangan FE menyebut dari teori buatan elit global itulah ada bisnis triliunan dolar yang fake atau palsu yang memeras uang rakyat. Ya kalau gitu putus sitemnya mulai dari satelitnya,tidak perlu teori bentuk buminya yang sampai saat ini masih hipotesis karena jelas-jelas belum ada satupun orang atau alat yang mampu memotret bentuk bumi utuh. Menurut FE,karena ada GE maka jadilah merambat ke lahan bisnis untuk membeli satelit. Jadi akar kesengsaraan umat hanya dari implementasinya  atau penerapan
theorinya,bukan karena theorinya.  Contoh Teori Charles Darwin itu ngawur,masak kita dibilang berasal dari monyet padahal Nabi Nuh AS saja bahteranya sudah canggih. Apakah orang yang percaya manuasia berasal dari monyet vs manusia berasal dari Nabi Adam AS menyebabkan umat menderita secara direct effect?

 Kecuali kalau gara-gara teori Charles Darwin mengatakan manusia berasal dari monyet,lalu semua penduduk diwajibkan membeli topeng monyet per kepala keluarga seharga  100 juta,nah itu baru yang nggak benar. Bukan berarti saya membenarkan teori Charles Darwin,tetapi saya hanya membiarkan saja mau Darwin bahasa kasarnya ngoceh,ngebacot apapaun,masalah percaya atau nggak tergantung keimanan kita percaya manusia dari monyet atau Nabi Adam AS karena untuk masalah memilih jalan saja Allah SWT sangat fair. Membiarkan syetan ke Bumi mengganggu anak Adam, ,tetapi kalau tidak bisa mengganggu karena beriman kepada Allah SWT ya syetan harap maklum dan mengakui. Sama saja dengan Darwin membuat teori manusia dari monyet,kalau kita beriman dan percaya kita berasal dari Nabi Adam ya nggak ada efeknya teori Darwin pada diri kita, kan gitu. Jadi nggakperlu kalau Darwin ngomong manusia ndari monyet,lantas dengan keimanan kita yang bertolak belakang dengan teori Darwin karena percaya Nabi Adam AS lalu Darwin kita bunuh,kita olok-olok,kita hina karena berbeda keimanan seperti anak GE menghujat anak FE dan sebaliknya.
Simplenya kan FE menyebutkan gara-gara teori bumi bulat,kita jadi beli satelit dan harus bayar pakai uang. ya tumbangkan saja satelitnya. Teori bumi bulatnya biarkan saja karena teori vs teori justru membuktikan sejauh mana keimanan kita,rasa syukur kita untuk menggunakan fasilitas panca indera untuk mencari tau dan pemahaman kita dengan pesan-pesan serta perintah Allah SWT. Bahkan sesama manusia yang berbeda keyakinanpun Allah menyebutkan Lakum dinukum waliyyadin “ Bagimu agamu bagiku agamaku”. Kalau kepercayaan agama saja Allah SWT memberikan kesempatan kepada manusia untuk menemukan jati dirinya masing-masing sampai dapat merasakan kebesaran &kehadiranAllah SWT di hati dan alam fikirnyanya,kenapa teori bumi bulat vs bumi datar harus saling tunjuk,saling menyalahkan,dan saling memaksakan?.
Besok-besok kalau elit global membuat teori jika di dalam perut bumi ada ular yang setiap hari menghembuskan nafas gas alam dan kencing minyak bumi ya biarin aja. Toh itu teori mereka,tetapi kalau gara-gara teori mereka kita semua dimintakan iuran uang buat beli tumbal ayam karena sang naga harus dikasih makan ayam di perut bumi supaya terus kencing dan menghasilkan minyak bumi,ya kita protes. Sama saja ada orang menganut Kristen,hindu,budha,ya biarin saja toh itu kepercayaan mereka. Kecuali kalau gara-gara kepercayaan mereka,kita dirugikan kita pasti akan bertindak.
Jadi supaya jelas FE & GE,yang kalian perdebatkan kusir sampai ada yang saling ejek,saling hina,itu hanya teori. Teori itu seperti pisau. Tergantung pisau itu mau kalian pakai buat apa. Kalau kalian pakai untuk memasak ya nggak ap-apa,tetapi kalau buat membunuh orang ya jangan. Teori FE & GE kalau kalian jadikan ajang silaturahim berdiskusi,bertemu,saling belajar ya nggak apa-apa,kecuali kalau teori kalian dipakai untuk menghujat,menghina,mengejek  ya tidak boleh. Apalagi niatnya kalian membuktikan teori  supaya dekat dengan Allah,yang ada kalau mencaci saling hina malah jauh dari Allah. Dan anak-anak GE mohon stop memaksa anak-

anak FE suruh bikin roket,suruh ke antartika sendiri,suruh ke luar angkasa sendiri. Bukannya anak FE nggak bisa,tetapi kebetulan yang diberi kesempatan untuk meneliti ke luar angkasa sekarang adalah orang-orang GE seperti NASA,Lapan,Jaxa,dan lain-lain. Sama saja ada orang pengemis ngomong kalau mereka tidak percaya mobil Honda jazz itu ringan waktu dikemudikan,lantas kalian yang diberi rizki bisa beli Honda jazz apa langsung ngomong ngomel-ngomel ke pengemis itu untuk beli Honda jazz sendiri,suruh setir sendiri. Bukannya lebih bagus pengemis itu di ajak ikut naik Honda jazznya supaya sama-sama tau dan membantu supaya pengemis merasakan naik Honda jazz. Sama saja daripada menghujat anak FE suruh beli roket sendiri,ke antartika sendiri,lha mbok mending anak FE di ajak kalau ke luar angkasa. Di ajak kalau ke antartika. Kan lebih baik. Atau anak FE yang benar-benar nawaitu pasang badan mau mengabdikan dirinya untuk astronomi di angkat jadi PNS Lapan supaya apa yang ada di dalam otaknya  dan usaha seriusnya mencari tau bentuk bumi benar-benar dimanfaatkan lapan sebagai anak yang serius memikirkan astronomi.  

6. Lalu kedepan baiknya gimana mas?

Jawab : intinya simple.

1. Mau bumi bulat atau datar,Rukun islam tetaplah lima. Jangan gontok-gontokan,saling mencaci,debat kusir bumi bulat atau datar,tetapi Rukun islamnya malah dilupakan (tidak sholat,tidak puasa,tidak berzakat,dan lain-lain).

2. Mau Bumi bulat atau datar,waktu nyatanya terus berjalan. Tetaplah mencari-dan mencari ,terus berusaha mencari tau yang sebenarnya tanpa merusak ibadah muamalah. 

3. Mau bumi bulat atau datar,nyatanya aspek lain yang dirusak elit global ada banyak,tidak hanya bumi bulat atau datar. Jadi jangan berpaling muka, jangan bilang urusan beras mahal,harga cabe dipermainkan cukong,harga bensin naik gara-gara eliot global  itu bukan urusan kita sebagai anak astronomi. Semua itu adalah tetap tanggung jawab kita,karena  nyatanya perdebatan  bumi bulat atau datar bukan dilakukan anak astronomi. Ada anak pesantren,ada anak ekonomi,anak kedokteranpun ikut nimbrung memikirkan bumi bulat atau datar. Jadi FE & GE jangan lupa mikirin yang lain juga ya,OK.

4. Kalau misalnya bumi ternyata bulat,apa terus anak FE diusir dari bumi? Kalau ternyata bumi datar apakah anak GE diusir dari bumi? Kan  tidak. 

5. Mau bumi bulat atau datar,itu hanya teori. Jangan implementasikan teori tersebut untuk merendahkan martabat orang lain.

6. Mau bumi bulat atau datar,sains & ilmu pasti tidak akan pernah bisa dibohongi. Yes,kalau anak FE mempermasalahkan asumsi dan ingin menumbangkan asumsi,kok saya malah ingin menghilangkan si pembuat asumsi. Asumsi jarak bumi-bulan bukan itu hulu. Hulunya ya pembuat asumsinya,subjeknya,bukan objeknya. Itu yang saya  katakan,menumbangkan important person lebih manjur daripada brainwash and making people power.

7. Mau bumi bulat atau datar,nyatanya baik anak FE sama GE terus berdebat soal filsafat yang sampai nanti nggak ada habisnya karena hakikat filsafat  hanya akan lengkap ketika telah dibuktikan dengan bantuan sains dan teknik. Dulu orang membuat filsafat kalau suatu saat dengan perhitungan rumus akan ditemukan alat untuk menghubungkan suara orang yang jauh dan sekarang dengan bantuan teknik muncullah handphone. Dahulu orang membuat filsafat seperti da vinci yakin orang akan terbang dan sekarang dengan bantuan teknik,ada pesawat terbang. Sekarang mau mendebatkan filsafat? Asumsi jarak bumi bulan adalah filsafat, bentuk  bumi datar adalah filsafat,bumi bulat juga sebenarnya filsafat.Kalau ada yang menyebut bumi bulat adalah sains dan fakta,itu kan bagi orang yang sudah benar-benar real melihat bentuk bumi. Bagi yang belum ya sah-sah saja kita menyebut filsafat karena belum merasakan atau melihatnya sendiri bagi dirinya sendiri dan kalau sudah masuk ke ranah filsafat itu sudah menjadi keyakinan pada msing-masing manusia mau percaya atau tidak,setiap orang akan menilai sendiri. Jadi lebih baik jawab saja tidak tau bentuk bumi baik FE atau GE lebih baik bicara ke masyarakat kalau “KAMI TIDAK TAU PASTI BENTUK BUMI” karena kami belum pernah melihat.itu jauh lebih adil dan baik dan tidak ada yang boleh saling menghujat antara FE dan GE.

8. Mau bumi bulat atau datar,keyakinan bentuk bumi tidaklah akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Tetapi kalau kita tidak memerangi elit global,itulah yang akan dihisab oleh Allah SWT dengan pasal membiarkan kedzoliman.

9. Mau bentuk bumi bulat atau datar,nyatanya bahasa Alquran,makna,dan kandungannya tidak akan pernah berubah sampai nanti kiamat. Kita hanya berusaha membuktikan kebesaran-Nya lewat petunjuk AlQuran. Jika bumi ternyata bulat,apakah lantas Alquran akan berubah ditambah kata-kata bulat? Apakah kalau bumi ternyata datar Alquran akan berubah juga bertambah ada kata-kata datar?. Alquran sampai nanti ya seperti itu. Petunjuk dalam Alquran yang bisa kita buktikan kebenarannya dengan sains dan teknik ya kita syukuri bahwa Allah SWT ternyata adalah arsitek,designer terhebat. Tetapi,jika ada ayat Alquran yang isinya belum bisa kita buktikan kebenarannya secara sains dan teknik seperti bentuk bumi ini,ya tetap kita syukuri saja ternyata Allah SWT adalah Maha Hebat,Maha mengetahui apa yang kita tidak tau. Beres kan.

10. Mau bumi bulat atau datar, ya kemarin,sekarang,lalu besok kita tetap tinggal di bumi,kita tetap hidup bersama umat yang lain disekeliling kita dalam waktu yang singkat ini untuk menunggu kematian dan kiamat datang. Ingatlah Allah SWT menguji umatnya tidak lebih dari kemampuan umat tersebut. Mencari tau bentuk bumi bulat atau datar,jika kita tidak sanggup ya kembalilah kepada Allah SWT daripada saling hujat.

Semoga saudara-saudaraku FE atau GE tidak menghabiskan energy untuk saling hujat yang tidak perlu. Ketahuilah disaat kalian saling hujat,dalam waktu yang bersamaan banyak anak-anak diluar sana,adik-adik kita diluar sana yang setiap hari kelaparan,diserang penyakit,kehilangan bapak atau ibunya dan musibah lainnya. Sembari menunggu kepastian bumi bulat atau datar,lebih baik juga disambi ikut mengurus saudara-saudara kita yang kesusahan itu. Kalau FE jualan jam,jualan jaket ya sudah saya doakan semoga tambah lancar tapi ya jangan lupa  2,5% nya buat saudara-saudara yang nggak mampu tadi. Nanti Insyallah saya beli. Kalau anak GE mau ikutan  jualan atau tidak ya monggo tanpa harus menghina FE yang jualan dengan jalan yang halal.

Mulai saat ini siapapun pembacanya,  baik GE atau FE atau Golput setelah membaca artikel saya ini,kalau ditanya  bumi bentuknya apa,jawab saja “SAYA BELUM TAHU & SEDANG PROSES MENCARI TAHU”.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)”

Artikel ini Saya tulis bukan karena ijazah saya lulusan apa,tetapi saya tulis karena disekeliling saya sedang ada apa

Wassalamualaikum Wr.Wb

 

LINK TO AEROSPACE INSTITUTE,MANUFACTURE,& AIRLINES







Bagi yang ingin chatting atau bertanya tentang penerbangan,silahkan kirim email kalian ke aripas@rocketmail.com

GIVE COMMENT BELOW

Arip Susanto Copyright@2013. Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.
WEBSITE RESMI ARIP SUSANTO-COPYRIGHT © 2015
DIDESAIN OLEH ARIP SUSANTO-PROVIDER DOMAIN OLEH RUMAH WEB