Manajemen Airline

MANAJEMEN AIRLINE

Disini kita akan membahas manajemen yang diterapkan airline. Aspek manajemen yang akan kita pelajari yaitu :

Manajemen Operasi ( pola rute,bahan bakar (fuel),dan tenaga kerja)
Manajemen Pemasaran (Market share dan Aliansi)
Manajemen Perawatan Pesawat

Untuk belajar manajemen penerbangan,saya memberi beberapa buku rujukan yang bagus untuk di pelajari yaitu :










  1. Airline Marketing and Management,Stephen Shaw.
  2. Flying Off Course: Airline Economics and Marketing (Fourth Edition),Rigas Doganis.
  3. The Economics of Airline Institutions, Operations and Marketing, Volume 2 (Advances in Airline Economics) ,Darin Lee.
  4. Aerospace Marketing Management: Manufacturers · OEM · Airlines · Airports · Satellites · Launchers,Phillipe Malaval.
  5. The Global Airline Industry, Peter Belobaba.
    1. MANAJEMEN OPERASI

    Dalam bahasan manajemen operasi,kita akan memfokuskan pada aspek rute penerbangan,aspek bahan bakar,dan aspek tenaga kerja. Mungkin rekan-rekan ada yang bertanya kenapa harus transit ? kenapa tidak semua penerbangan langsung saja atau direct. Nanti dulu, masalah transit-transit tidak hanya di penerbangan kok. Di pelabuhan ada juga transit,ataupun via jalur darat seperti contoh kalau rekan-rekan naik bis lorena dari jogja ke padang,pasti rekan-rekan akan transit dulu di Tajur,Bogor. Simplenya, transit itu sendiri bertujuan untuk menghemat operating cost atau pengeluaran. Daripada dibuat langsung dari Jogja ke Padang,lebih baik dikumpulkan dulu di Bogor baru berangkat ke Padang bersama penumpang bus lorena yang lain. Bayangkan saja,angkutan darat saja menerapkan sistem transit,apalagi pesawat yang biaya operasionalnya bisa puluhan juta bahkan ratusan juta perjam. Tanpa manajemen yang kuat serta perencanaan yang matang,penerbangan mudah sekali untuk gulung tikar.

    1.a. Manajemen Jaringan Rute

    Manajemen jaringan rute penerbangan terdiri dari berbagai macam antra lain linier,grid,dan hub and spoke,nah hub and spoke ini yang paling banyak dipakai oleh maskapai penerbangan di Indonesia.


    Pola rute linier atau yang sering kita kenal dengan penerbangan langsung. Dahulu penerbangan rata-rata semuanya transit di Jakarta ataupun Surabaya. Waktu saya kecil,kalau dari Palembang ke Jogja pasti transit di Jakarta,tapi sekarang NAM air sudah terbang langsung dari Palembang ke Jogja. Airlines menerapkan sistem ini jika peminat penumpangnya banyak. Tetapi,tidak jarang diwaktu tertentu pola ini berbahaya jika peminat yang terbang ke tujuan sedikit atau kedatangan kompetitor baru.

    POLA LINIER ATAU DIRECT
    Keuntungan pola linier atau langsung yaitu :
    1. Menghemat waktu tempuh penumpang.
    2. Mengurangi beban psikis penumpang dibandingkan transit.
    3. Memudahkan cabang operasional untuk melakukan cek terhadap kegiatan penerbangan di wilayahnya.
    4. Memudahkan pengirim kargo untuk melakukan tracking atau pelacakan barang kirimannya yang diangkut pesawat dengan pola jaringan linier atau direct.
    Kerugian pola linier yaitu :
    1. Desentralisasi market yang artinya pihak pusat akan sulit mengontrol operasional dan hanya mengandalkan laporan dari cabang.
    2. Sulit dalam hal pengawasan maintenance armada jika armada yang digunakan tidak di rotasi atau jika pesawat yang dipakai pesawat itu-itu saja untuk rute yang sama.
    3. Berbahaya jika ada kompetitor baru karena cenderung memberi pilihan kepada penumpang dengan jumlah penumpang yang tidak terlalu banyak.
    Pola rute hub and spoke ini yang paling banyak diterapkan di Indonesia dimana pola penerbangan dari bandara spoke dikumpulkan di satu titik bandara hub. Bandara hub adalah bandara pengumpul atau pengepul penumpang,sedangkan spoke adalah bandara pemancing atau bandara penyumbang. Di Indonesia yang terkenal sebagai bandara hub adalah Bandara Soekarno Hatta Jakarta (CGK), Bandara Juanda Surabaya (SUB),Bandara Sultan Hasanuddin Makassar (UPG),Bandara Ngurah Rai Bali (DPS),Bandara Sepinggan Balikpapan (BPN),dan bandara besar lainnya. Untuk bandara penyumbang biasanya berasal dari bandara perintis atau bandara kecil disekitar bandara hub.

    POLA HUB AND SPOKE
    Keuntungan pola Hub and Spoke yaitu :
    1. Airlines dapat memaksimalkan jumlah kemungkinan penerbangannya.
    2. Airlines dapat memasuki tempat-tempat yang segmen pasarnya lebih kecil.
    3. Penumpang dengan tujuan yang sama tetapi yang berbeda asal keberangkatan dapat dikumpulkan di suatu hub dan diterbangkan dengan satu pesawat ke tujuan tersebut.
    4. Tambahan connecting traffic dapat  meningkatkan load factor.
    5. Memungkinkan airlines menggunakan pesawat yang lebih besar akibat penambahan load factor.
    Kerugian pola Hub and Spoke yaitu : 
    1. Memberikan pengaruh besar pada biaya operasi airlines (higher unit cost) handling penumpang lebih banyak dibanding direct traffic.kenaikan pada landing charges, fuel serta cycle pesawat.
    2. Waktu perjalanan lebih lama dan bagi sebagian penumpang memberikan tekanan psikologis.
    3. Konsentrasi aktivitas di hub dalam waktu singkat menimbulkan beban lebih besar bagi petugas dan fasilitas di bandara.
    4. Waktu tunggu menjadi penilaian penumpang akan kualitas transfer airlines dan bandara hub (low minimum connecting time, MCT).
    5. Airlines dan bandara mengejar ketepatan waktu (punctuality), jika terjadi keterlambatan maka akan berefek kepada penerbangan berikutnya.
    Pola  jaringan grid ini seperti pola angkutan kota atau angkot,dimana pesawat dalam satu hari terbang dari satu bandara ke bandara lain. Pola ini juga banyak diterapkan oleh maskapai di Indonesia. Pola ini hampir sama dengan pola linier atau direct,yang membedakan jika pola linear setelah pesawat mendarat di bandara tujuan, dia akan pulang lagi ke bandara asal. Kalau grid, dia tiba di bandara tujuan dan melanjutkan terbang ke bandara lainnya.

    POLA GRID
    Keuntungan pola Grid yaitu:

    1. Lebih atraktif bagi penumpang local traffic dibandingkan dengan connecting traffic yang harus berganti nomor penerbangan (pesawat). Dengan demikian yield yang dihasilkan direct traffic lebih tinggi dibandingkan dengan connecting traffic.
    2. Lebih fleksibel karena airlines dapat memilih kota-kota dengan permintaan pasar (market demand) yang tinggi.
    3. Biaya operasi menjadi lebih efisien dalam melayani rute (karena tidak ada persinggahan).
    4. Kendala yang dihadapi dari kompleksitas proses direct traffic lebih sedikit dibandingkan connecting traffic yang harus berganti nomor penerbangan (pesawat udara).
    Kerugian pola Grid yaitu:

    1. Tingkat kompetisi dengan airlines lain untuk menarik local traffic sangat tinggi.
    2. Jumlah pasangan O-D yang dilayani lebih sedikit dibandingkan pola hub-and-spoke karena keterbatasan armada dan sumber daya lain. Dengan demikian, airlines harus memilih pasangan-pasangan O-D tertentu sesuai dengan kemampuan dari seluruh pasangan O-D yang potensial dalam pasar.
    3. Memiliki dampak yang besar terhadap tempat-tempat yang pasarnya lemah.


    1.b. Manajemen Bahan Bakar

    Tahukah kalian kalau harga avtur berbeda disetiap bandara . Ketika pesawat mendarat di wilayah A,harga avturnya sekian dan ketika mendarat diwilayah B harga avturnya sekian. Avtur ini bagi pesawat adalah makanan sehari-hari sama seperti kalau kita butuh nasi. Perhitungan yang kurang cermat dan buruknya manajemen bisa menyebabkan maskapai bangkrut hanya gara-gara masalah avtur. Untuk menekan cost atau biaya karena konsumsi avtur,pihak maskapai dengan sekuat tenaga akan mencari cara agar pengeluaran tidak membengkak yaitu dengan pemilihan rute dan check point,sikap atau attitude terbang pilot,dan mengisi penuh avtur di bandara yang harga avturnya murah.

    Pertama pemilihan rute. Pemilihan rute ini ditujukan agar pesawat beroperasi pada jarak terdekat. Dalam penerbangan,seorang FOO yang membuat flight plan dituntut untuk merancang flight plan dengan jarak terpendek tetapi tetap memperhatikan keamanan penerbangan. Cara ini cukup efektif karena setidaknya dapat menekan biaya pengeluaran avtur untuk operasional pesawat ,tetapi jika terjadi anomali cuaca atau terdapat cuaca buruk atau jika terjadi holding karena lalu-lintas udara sekitar bandara yang carut marut,cara ini akan sia-sia karena pesawat otomatis harus mengubah rute dan check pointnya.

    Cara yang kedua,sikap atau attitude pilot dalam membawa pesawat. Bayangkan saja rekan-rekan yang membawa sepeda motor dengan tenang,santai,dan teratur dengan ketika membawa motor digeber atau ugal-ugalan,sudah pasti berbeda konsumsi bahan bakarnya. Cara penghematan ini sepenuhnya ditangan pilot karena mereka yang menerbangkan pesawat. Cara ini cukup efektif ditambah jika pilot mampu menghemat bahan bakar sesuai ketentuan perusahaan,biasanya mereka  akan mendapat bonus dari maskapai tempat mereka bekerja.

    Cara ketiga yaitu mengisi avtur yang banyak di bandara dengan harga avtur murah. Cara ini banyak dilakukan maskapai untuk mengurangi biaya yang keluar karena pembelian avtur. Harga avtur di Jogja dengan ketika mengisi di Jakarta berbeda (lihat gambar dibawah,harga avtur pertamina update tanggal 15 Oktober 2015, Pukul 09.00 WIB). 


    Karena harga avtur setiap bandara berbeda,itu kenapa pasti maskapai akan mengisi full avtur di bandara dengan avtur yang lebih murah, kalaupun harus mengisi avtur di bandara yang lebih mahal tetap tidak banyak karena sisa dari bandara sebelumnya yang di bandara dengan harga avtur murah masih ada. Pengisian avtur ini ada undang-undangnya dimana bahan bakar pesawat harus mampu dipakai untuk kembali ke bandara asal jika terjadi hal yang tidak diinginkan dibandara tujuan yang memaksa pilot harus divert atau return to base.

    1.c. Manajemen Tenaga Kerja

    Bisnis maskapai ini bisa dibilang bisnis dengan resiko tinggi. Bisnis dibidang jasa tetapi dituntut untuk selalu update dalam armada yang berarti dari segi barang. Pegawai maskapai sama susunannya seperti kebanyakan perusahaan yang multiple work place (tempat kerja yang banyak cabangnya). Manager atau kepala cabang perwakilan maskapai di daerah X, Y, ataupun Z dan ada pula staff-staffnya. Pegawai suatu airlines mengikuti undang-undang ketenagakerjaan,ada yang tetap dan ada pula yang kontrak. Pegawai maskapai yang bekerja pada suatu wilayah akan mengikuti undang-undang ketenagakerjaan di daerah tempat mereka bertugas dan otomatis mendapat upah sesuai UMR/UMK daerah tersebut. Lalu pertanyaannya,maskapai kan bukan pabrik yang berdiam diri di suatu tempat yang upah pegawainya mudah untuk disesuaikan,tetapi maskapai adalah perusahaan multiple work place yang banyak cabangnya, lantas bagaimana sistem perekrutan dan sistem penggajiannya?. Yes,sama seperti perusahaan multi work place lainnya. Untuk level staff hingga supervisor rata-rata maskapai merekrut warga setempat yang mengenal budaya,adat,dan habbit atau kebiasaan masyarakat setempat. Tetapi,untuk level pengambil keputusan atau level managerial atau kepala cabang bisa ditunjuk dari warga setempat ataupun menugaskan pegawai pusat untuk ditempatkan di daerah. Bagaimana pengaturan keuangan mereka yang UMR/UMK setiap provinsinya berbeda tetapi  mereka bisa menggaji karyawannya? Jawabannya ada di sistem pemberian harga tiket.



    Sebagai simulasi,saya ambil contoh harga tiket penerbangan maskapai X dari Jogja ke Bengkulu trasit Jakarta. Pernah terbayang tidak kalau kalian terbang dari Jogja ke Jakarta tiketnya murah tetapi begitu dari Jakarta ke Bengkulu yang jaraknya lebih pendek dari Jogja-Jakarta kok lebih mahal?
    Jawabannya simple, perbedaan UMR. UMR di Jogja lebih rendah daripada UMR di Bengkulu dan itu kenapa untuk harga ke tujuan Bengkulu akan lebih mahal daripada Jogja-Jakarta. Dengan pengaturan seperti itu,maka biaya untuk gaji karyawan di daerah sudah tertutupi dari perbedaan tarif tiket yang diberikan kepada penumpang.  Ingat guys,bukan hanya pesawat lho, bis juga sama. Coba sekali-kali kalian naik bis dari Jogja-Jakarta atau Semarang-Jakarta,tiketnya akan lebih murah ketimbang kalian naik bis dari Jakarta ke Lampung atau ke Bengkulu.

    2. MANAJEMEN PEMASARAN

    Pada bagian ini kita akan belajar jenis pemasaran maskapai yaitu aliansi.
    Rekan-rekan yang pernah melihat pesawat garuda ada tulisannya Skyteam mungkin bingung kok kenapa ditulis skyteam. Tulisan skyteam di pesawat garuda adalah aliansi yang diikuti garuda. Aliansi itu bahasa gaulnya adalah geng. Jadi,maskapai-maskapai  besar di dunia membuat kelompok membentu aliansi atau geng dengan tujuan kerja sama dalam marketing. Aliansi di dunia yang terkenal ada tiga yaitu Skyteam,Star Alliance,dan One World.













    Anggota aliansi skyteam antara lain Garuda Indonesia,KLM,Korean Air,Aeroflot,Saudi Arabia Airlines,dan lain-lain. Anggota aliansi star alliance antara lain Singapore Airlines,Air New Zealand,Air India,dan lain-lain. Untuk aliansi One World antara lain Qantas,Malaysia Airlines,dan lain-lain.

    Mengapa maskapai harus beraliansi?
    1. Komitmen antar airlines untuk mengejar kegiatan pemasaran bersama.
    2. Dipicu oleh kebutuhan mengembangkan network yang ada bersama airlines lain dalam memenuhi demand yang semakin bertambah.

    Apa untungnya kalau maskapai ikut aliansi?
    1. Destinasi penerbangan bertambah.
    2. Terjadi konsolidasi pasar.
    3. Ada koordinasi jadwal.
    4. Ada pertambahan market share dan juga revenue.
    5. Biaya airlines dapat ditekan melalui:
    • Program maintenance bersama.
    • Program frequent flyer bersama.
    • Program pemanfaatn fasilitas bersama.
    • Program pengembangan IT bersama.
    • Program advertising bersama.
    • Program pengembangan pesawat bersama.
    • Prosedur handling bersama di bandara (migration process, check-in process, seat assigment, baggage handling).

    Lalu apa kendala ikut aliansi?
    1. Citra salah satu mitra dapat dirusak karena pelanggan memiliki persepsi bahwa kualitas airlines mitra tidak sebaik yang pertama.
    2. Kesepakatan dalam memadukan jadwal penerbangan dan atau strategi pemasaran atau standar layanan yang diberikan tidak terlalu mudah dilakukan dan sering sekali memakan waktu.
    3. Gaya manajemen dan budaya perusahaan mungkin berbeda sehingga menimbulkan banyak perselisihan yang membutuhkan upaya penyelesaian yang tidak mudah.
    4. Saling membagi biaya dalam suatu layanan bersama juga sering menimbulkan perselisihan dan membutuhkan waktu yang lama untuk penyelesaian.
    5. Aliansi tidak selalu memberikan keuntungan bagi semua pihak yang bermitra.
    6. Strategi salah satu mitra mungkin perlu diganti agar mengakomodasi strategi baru yang disepakati.
    7. Pemerintah mungkin bisa saja menaruh curiga terhadap kolusi untuk mengurangi kompetisi dan meningkatkan harga tiket.

    Mengapa tiket pesawat semakin mendekati hari keberangkatan semakin mahal?
    Bukankah kalau kursi msih kosong mendekati hari keberangkatan,berarti pesawat tidak laku dan harusnya harganya semakin jatuh?



    Sebelum mempelajari masalah tiket,terlebih dahulu kita harus paham jenis-jenis penumpang pesawat yaitu Jenis penumpang “ go at any price” / pergi berapapun harganya tetap dibeli dan jenis “go if the price is right” / pergi kalau harganya sesuai.  Maskapai dalam bisnisnya berusaha mendapatkan untung sebesar-besarnya dan rugi sekecil-kecilnya sama seperti perusahaan kebanyakan.  Teori untuk mempelajari tentang tiket nanti dapat menggunakan teori revenue management atau yield management atau sophisticated quasi-academic tactics. Dengan teori ini,kita dapat mengetahui kenapa tiket pesawat semakin mendekati hari keberangkatan semakin tinggi.

    Perilaku kedua jenis penumpang di atas jelas berbeda. Jenis penumpang “go at any prices” tidak masalah berapapun harganya,dia akan berangkat. Penumpang jenis ini dibagi menjadi beberapa golongan antara lain emergency travelling atau penumpang yang berpergian karena urusan mendadak seperti keluarga sakit,harus datang ke pengadilan,harus hadir undangan,dan lain-lain serta ada juga yang dasarnya penumpang tersebut ekonominya mapan atau kaya raya sehingga berapapun harga tiket tidak masalah.

    Jenis penumpang “go if the price is right” adalah penumpang yang istilahnya mikir-mikir dulu sebelum beli. Penumpang golongan ini akan aktif membanding-bandingkan tiket penerbangan dan mencari yang termurah. Golongan penumpang jenis ini dibagi menjadi beberapa golongan seperti mahasiswa yang uangnya pas-pasan untuk mudik,pekerja perantauan yang sudah lama tidak pulang kampung,atau orang-orang yang hobi travelling sehingga karena sudah berpengalaman berpergian,dia akan berusaha mencari tiket yang murah.

    Sekarang kita akan belajar dilema maskapai atau perusahaan airlines. Sekarang anggap saja rekan-rekan adalah pemilik maskapai yang mau membuat harga tiket. Yang perlu diingat,kursi pesawat sudah fix dalam artian kursi pesawat sudah dipasang di dalam kabin pesawat dan tidak bisa dibongkar-bongkar mengikuti jumlah tiket yang terjual. Tidak mungkin kursi pesawat yang jumlahnya misalnya 100 kursi,ketika terbang ke Jogja untuk mengangkut penumpang di jogja yang hanya 60 orang tiba-tiba kursinya dilepas hanya dipasang 60 kursi kan mustahil. Berarti,kursi pesawat dijual berdasarkan kuota atau istilahnya terpakai nggak terpakai jumlahnya ya segitu. Kalau kita menjual kursinya dengan harga yang tetap atau fix,tidak berubah naik mendekati hari keberangkatan. Misalnya kita menjual dengan harga tinggi,berarti pangsa pasar kita atau target kita adalah penumpang jenis “go at any prices” atau berapapun harga tiket tidak masalah. Mungkin kita akan mendapat revenue atau hasil yang besar,tetapi perlu diingat tidak semua orang adalah orang kaya dan maskapai tidak kita sendiri,masih banyak maskapai saingan yang lain. Itu tandanya,jika kita memperlakukan harga tetap pada level yang tinggi atau high fare,maka kursi kita akan banyak yang kosong walaupun dapat penghasilan lebih dari tiket yang mahal tadi,tetapi tetap saja kursi kosong tadi istilahnya mubazir atau eman-eman.

    Sekarang andaikata kita menerapkan harga tiket fix atau tetap dengan harga murah atau low fare. Berarti pangsa pasar atau target pasar kita adalah penumpang jenis “go if the price is right” atau golongan mahasiswa pas-pasan yang mau mudik tadi atau perantauan yang mau mudik juga ke kampung. Kalau kita menjual kursi dengan harga murah,maka kursi tersebut terisi penuh. Tetapi,kita pasti akan berfikir misalnya pesawat kita seratus  kursi, kalau kita jual satu kursinya satu juta,-, berarti kalau full penuh kita dapat seratus juta, tetapi kalau kita jual murah satu kursinya lima ratus ribu,berarti kalau full kita dapat lima puluh juta saja. Lalu kalau bisa dapat lebih kenapa kita jual murah. Berarti,kita pasti akan berfikir kalau gitu mending dijual mahal harga satu juta per kursi toh kalau yang beli sudah lima puluh orang sama aja dengan kita jual murah satu kursinya lima ratus ribu tetapi terisi full setidaknya kita hemat bahan bakar karena kalau dijual mahal cuma orang lima puluh yang naik dengan pendapatan sama. Inti dari penjelasan di atas yang dimaksud dilema adalah antara iya dan tidak. “Kalau ongkosnya di jual mahal,yang naik sedikit mubazir. Kalau ongkosnya murah,yang naik banyak tapi tanggung kalau bisa di jual mahal dengan jumlah penumpang sedikit tapi hasilnya sama kenapa tidak”. Sebagai gambaran,rekan-rekan lihat perbandingan pendapatan atau revenue maskapai dengan harga tiket berbeda-beda dan harga tiket yang semua kursinya sama pada gambar dibawah ini.
    Dari gambar di atas,rekan-rekan sudah cukup paham mengapa harga tiket pesawat semakin hari semakin mahal mendekati hari keberangkatan. Perusahan airlines atau maskapai sudah memprediksi dan melakukan pemetaan serta forecast atau penaksiran jumlah penumpang yang akan berangkat dengan pesawatnya. Perhitungan untuk mendapatkan jumlah seat yang harus dijual dan berapa harga per seatnya bukan berupa hitungan ringan. Untuk dapat menghitung harga tiket dan berapa jumlah kursi yang dijual promo,dijual harga mahal atau high fare,dan berapa yang harga murah,maskapai harus melakukan hitungan yang kompleks atau sangat rumit dengan bantuan program komputer. Ada banyak program komputer yang digunakan untuk menghitung revenue tiket pesawat antara lain Sabre AirVison Revenue Manager, JDA Software,RENO,dan lain-lain tetapi yang terkenal adalah Sabre AirVision revenue Manager.

    Contoh Software Sabre AirVision Revenue Manager
    Perhitungan dengan software ini sangat membantu maskapai untuk memutuskan berapa harga tiket pesawat untuk penerbangan tiga bulan kedepan. Bayangkan saja,harga tiket untuk tiga bulan kedepan sudah bisa dibeli padahal maskapai tidak tau apakah bulan depan maskapainya bangkrut atau tidak,maskapainya terkena masalah atau tidak, bulan depan ada pesaing tidak,dan lain-lain. Dengan bantuan software atau program komputer tersebut,maskapai sangat terbantu dalam menjalankan bisnis penerbangannya.

    LINK TO AEROSPACE INSTITUTE,MANUFACTURE,& AIRLINES







    Bagi yang ingin chatting atau bertanya tentang penerbangan,silahkan kirim email kalian ke aripas@rocketmail.com

    GIVE COMMENT BELOW

    Arip Susanto Copyright@2013. Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.
    WEBSITE RESMI ARIP SUSANTO-COPYRIGHT © 2015
    DIDESAIN OLEH ARIP SUSANTO-PROVIDER DOMAIN OLEH RUMAH WEB